JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menggalang dana untuk Infrastructure fund pada akhir tahun ini. Infrastructure fund tersebut akan menjadi unit bisnis baru perseroan yang akan membidik dana sebanyak US$ 200-300 juta pada tahap pertama. Infrastructure fund tersebut dibentuk untuk mendanai proyek infrastruktur yang digarap perseroan senilai US$ 5 miliar dalam tiga sampai lima tahun mendatang.
Dana tersebut digunakan pada investasi pertama pada tiga proyek prioritas perseroan, yaitu pembangunan pembangkit listrik senilai US$ 2,5 miliar, jalan tol sebesar US$ 235 juta, dan pipanisasi. Untuk pembangkit listrik, Bakrie Brothers menggarap Tanjung Jati A 2x660 megawatt, serta proyek panas bumi di Telaga Ngebel (Jatim) 150 megawatt dan Sukoria (NTT) 33 megawatt.
Untuk jalan tol, penggarapan proyek jalan tol ruas Cimanggis – Cibitung (31 km) melalui PT Bakrie Indo Infrastructure. Proyek ini diperkirakan menghabiskan dana senilai Rp 2 triliun. Bahkan, dua pekan lalu perseroan telah meneken Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) dengan pemerintah melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Namun, perseroan masih belum membuka mulut soal proyek pipanisasi yang mereka bidik.
“Kami masih memproses pembentukan Infrastructure fund tersebut. Pada akhir tahun kami akan launching hal tersebut dengan nama investornya,” ungkap Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (27/7).
Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan infrastrukture fund menjadi salah satu kegiatan perseroan dalam menghimpun dana dari investor. Kemudian, lanjut dia, dana tersebut ditanamkan pada proyek infrastruktur perseroan untuk mengkontibusikan porsi ekuiti kepada proyek tersebut. Sebab, lanjut dia, masing-masing proyek tersebut mengadopsi skema pendanaan antara pinjaman dan ekuitas, yaitu 70:30.
Eddy mengatakan tahap pertama Infrastructure fund tersebut akan menggalang sebanyak US$ 200-300 juta. Menurut dia, Infrastructure fund tersebut telah menarik minat investor untuk bergabung dalam unit bisnis baru perseroan tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama investor tersebut. “Saya masih belum bisa menyebutkan, pokoknya investor tersebut merupakan asing yang berasal dari negara berkembang,” jelas Eddy.
Eddy mengaku masih belum memustuskan skema kepemilikan dari para investor yang masuk dalam Infrastructure fund tersebut. Namun, lanjut dia, saat ini perseroan menawarkan dua skema alternatif kepada investor, yaitu langsung memiliki pada proyek yang digarap tersebut ataupun berinvestasi di Bakrie Brothers. “Namun, saya lebih cenderung pada alternative skema yang pertama,” papar dia.
Dalam menggarap proyek tersebut, Eddy menjelaskan perseroan juga menggandeng mitra strategis. Diantaranya adalah Samsung untuk menggarap Tanjung Jati A, dua proyek geiothermal dengan perusahaan asal Australia, Panax Geothermal. Serta Tata Power perusahaan asal India dalam pengerjaan pembangkit listrik di Kaltimantan Timur. Ia menjelaskan untuk Tata Power dan Panax Geothermal memiliki porsi 30%. Sedangkan untuk Samsung diakuinya masih dalam tahap negosiasi. “Tapi idealnya, kami mayoritas sebagai pemilik pembangkit. Pokoknya diatas 51%,” jelas Eddy.
Prospek Menjanjikan
Managing Research Indosurya Aset management Reza Priyambada menilai positif infrastructure fund yang akan dibangun oleh Bakrie Brithers. Ia menjelaskan prospek bisnis infrastruktur masih menjanjikan di masa mendatang. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Terlebih, ia mengatakan saat ini infrastruktur di Indonesia masih tertinggal dibandingkan kawasan Asia Tenggara lainnya.
Namun, lanjut Reza, Bakrie Brithers harus memperhitungkan secara matang dalam menetapkan proyek yang akan didanai dari infrastructure fund tersebut. Sebab, lanjut dia, proyek tersebut harus memiliki prospek return yang jelas di masa mendatangnya. Selain itu, lanjut dia, perseroan juga harus berkomitemen untuk menyelesaikan pengerjaan proyek tersebut. “Jika tidak, nantinya malah akan menjadi beban dan malah tidak akan menghasilkan return yang diharapkan oleh perseroan dalam pembentukan infrastructure fund tersebut,” jelas Reza.
Reza menilai pembentukan infrastructure fund tersebut akan menjadi sentimen positif bagi investor dalam mengakumulasi saham BNBR. Untuk itu, ia menargetkan BNBR akan mampu menyentuh harga Rp 85 dalam waktu kurang dari tiga bulan. “Namun, sebelum itu, BNBR akan diwarnai koreksi akibat telah telalu lamanya rally saham mereka,” kata Reza.
Sementara itu, analis Sucorinvest Central Gani Pang Tek Djen mengatakan Bakrie Brothers dipercaya tidak akan mengalami kesulitan dalam penggalangan dana untuk infrastructure fund tersebut. Ia pun berharap dalam pengerjaan berbagai proyek tersebut perseroan akan dapat menyelesaikannya tepat waktu. Sebab, lanjut dia, proyek infrastruktur akan berprospektif apabila penyelesainnya tepat waktu. “Hal tersebut karena proyek infrastruktur merupakan jangka panjang,” kata dia.
Namun, lanjut dia, dimulainya kemitraaan proyek infrastruktur tersebut akan tergantung pada penyelesaian utang dan jugta kuasi reorganisasi yang dilakukan oleh perseroan pada tahun ini. Ia menilai mitra aisng tidak bartu akan melakukan pengucuran modal dalam proyek tersebut apabila semuanya telah terselesaikan. “Saya melihat sentimen ini NETRAL terhadap harga saham BNBR,” jelas Tek Djen.
Kuasi Reorganisasi
Pada kesmepatan yang sama, Eddy mengaku optimistis perseroan akan mampu menuntaskan kuasi reorganisasi yang tengah dilakukan. Saat ini, lanjut dia, perseroan tengah menunggu hasil audit laporan keuangan semester I 2011. Sebab, perseroan masih menunggu hasil konsolidasi dengan salah satu anak usaha mereka, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEl). “Mudah-mudahan hasil auditnya selesai pada awal Agustus dan baru akan diumumkan ke public pada pertengahan bulan depan. Kami berharap kuasi reorganisasi akan tuntas pada akhir kuartal III,” ucap Eddy.
Analis Lautandhana Willy Sanajya optimistis kuasi reorganisasi yang akan dilakukan perseroan akan selesai pada kuartal III mendatang. Hal ini, lanjut dia, ditandai dengan berhailnya perseroan dalam menekan kerugian dalam kinerja mereka pada kuartal I, yaitu hanya menjadi Rp 281 miliar. Padahal akhir 2010, perseroan mengalami kerugian hingga Rp 7,1 triliun. Menurut dia, dengan berhasilnya kuasi tersebut membuak peluang untuk perseorn menggarap proyek senilai US$ 5 miliar pada masa mendatang.
“Hal ini menjadi titik balik Bakrie & Brithers untuk bangkit menjadi bendera Bakrie dalam bisnis di Indonesia. Untuk itu, saya merekomendasikan strong buy dengan target harga BNBR pada akhir kuartal III akan mencapia Rp 180,” tandas Willy. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar