Minggu, 17 Juli 2011

Harga SUN Menguat Terbatas

Harga SUN Menguat Terbatas       
                                                        
JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi akan mengalami penguatan pada pekan ini. Terutama pada SUN yang bertenor panjang. Namun, penguatan tersebut hanya akan berada di gerak yang terbatas. Sebab, pada pekan ini imbal hasil (yield) diperkirakan hanya akan turun di kisaran 10-20 basis poin.

Peningkatan terbatas ini disebabkan pemodal asing tengah melirik kondisi pasar obligasi Indonesia yang dianggap masih sangat menjanjikan. Di tengah kondisi global masih belum menunjukan kepastian. Hal tersebut seiring dengan krisis utang di negara Eroa yang kini telah menjalar ke Italia. Alhasil, kondisi zona Eropa masih dianggap belum menjadi pilihan dalam masuk di surat utang.

Hal tersebut ditambah lagi dengan kondisi Surat Utang Amerika Serikat (AS) yang masih belum menentukan prospek peningkatan batas utang jangka pendek mereka senilai US$ 14,29 triliun. Sebab, saat ini pembahasan tersebut masih tersendat karena kedua partai di AS, yaitu Demokrat dan Republic, belum sepakat menentukan langkah tersebut. Kondisi ini diperparah dengan pertumbuhan di Tiongkok diprediksi tidak sesuai dengan yang diharapkan karena dibayangi tingginya inflasi.

Ekonom BII Juniman mengatakan kondisi ini sangat menguntungkan Indonesia, karena investor asing akan mencari negara yang tepat dalam memarkir dana mereka. Hal ini terlihat dengan semakin besarnya kepemilikan SUN oleh inbvestor asing dalam beberapa pekan terakhir. Pada pekan lalu, tambah Juniman, kepemilihan asing telah mencapai Rp 239 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 35% dari total SUN Indonesia.

“Terlebih kondisi capital inflow yang diperkirakan masih akan berpotensi besar pada semester II mendatang,” ungkap Juniman kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Juniman menambahkan hal tersebut didukung dengan kondisi positif yang terjadi di domestik. Terlebih pada Selasa (19/7) pemerintah akan mengadakan lelang SUN untuk tenor panjang yang ditargetkan akan mencapai Rp 7 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, diperkirakan akan mendorong investor masuk di secondary market. Namun, ia memperkirakan pergerakan harga SUN pada menjelang lelang tersebut masih akan flat.

“Sebab, investor masih akan menunggu untuk masuk melalui lelang tersebut,” ucap Juniman.  

Yield Naik

Sementara itu, analis obligasi PT NC Securities I Made Adi Saputra memprediksi pergerakan harga SUN cenderung melemah pada pekan ini. Sebab, lanjut dia, kondisi di Eropa dan juga AS masih belum memberikan sinyal positif. Hal tersebut membuat investor, terutama asing, khawatir akan memberikan pengaruh negati pada pasar obligasi di negara berkembang. Dengan demikian, tambah dia, investor akan cenderung bersikap wait and see untuk masuk di pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Hal tersebut, lanjut made, semakin tidak kondusif dengan adanya lelang SUN pada Selasa (19/4)  mendatang. Menurut Made, kondisi yangterjadi baik di domestik maupun global membuat pergerakan yield akan naik. Ia menyebutkan untuk obligasi hangka pendek akan mengalami kenaikan yield sebesar 5-10 basis poin. “Sedangkan jangka menengah, yiled naik 3-5 basis poin dan jangka panjang itu sebesar 5-8 basis poin,” ujar dia.

Made menambahkan koreksi terhadap harga obligasi tersebut sebagai aksi profit taking investor. Ia menilai hal tersebut masih sangat wajar. Sebab, lanjut dia, pemodal melihat kenaikan harga obligasi sudah menyentuh titik signifikan pada dua pekan lalu. “Untuk itu, saya merekomendasikan investor untuk segera merealisasikan keuntungan sebelum pasar mengalami koreksi yang terlalu dalam,” tandas Made. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar