Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, Telkom mengalami penurunan laba disebabkan beban usaha yang ditanggung perseroan mengalami peningkatan sebesar 5,1% dari Rp 22,37 triliun menjadi 23,53 triliun. Padahal, Telkom berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 2,2% menjadi Rp 34,46 triliun dari Rp 33,71 triliun.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan pendapatan perseroan ditopang oleh pertumbuhan pelanggan di berbagai portofolio bisnis, baik telephony maupun broadband. Namun, lanjut dia, pertumbuhan tertinggi terjadi pada jumlah pelanggan broadband. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah Telkomsel Flash mengalami kenaikan sebesar 74,4% dari sebelumnya 2,97 juta menjadi 5,19 juta. Diikuti dengan Speedy naik sebesar 41,2% dari sebelumnya 1,41 juta menjadi 2 juta, dan pelanggan Blackberry naik sebesar 381,4% dari sebelumnya 456 ribu menjadi 2,19 juta.
Rinaldi mengatakan peningkatan jumlah pelanggan broadband pada Semester I 2011 ini diikuti dengan pertumbuhan pendapatan Speedy sebesar 13,6% dan mobile broadband (Telkomsel Flash, Blackberry dan GPRS) sebesar 55,0%. Secara total pendapatan Data dan Internet TelkomGroup telah tumbuh sebesar 19,0%. “Layanan broadband merupakan salah satu bisnis unggulan Telkom Group ke depan. Kami yakin pertumbuhan jumlah pelanggannya akan melaju secara konsisten karena data sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat,” ungkap Rinaldi dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (29/7).
Untuk telephony¸ Rinaldi mengatakan setiap produk layanan perseroan mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Ia menyebutkan jumlah pelanggan seluler mengalami kenaikan 15,8% dari sebelumnya 88,32 juta menjadi 102,30 juta. Sedangkan jumlah pelanggan Flexi mengalami kenaikan 17,9% dari sebelumnya 15,90 juta menjadi 18,74 juta. “Kenaikan juga terjadi di pelanggan wireline yang mengalami kenaikan 0,3% dari sebelumnya 8,4 juta menjadi 8,42 juta. Hal tersebut menunjukan masyarakat kembali berminat memanfaatkan layanan telepon kabel,” jelas dia.
Lebih lanjut Rinaldi mengatakan sepanjang 2011 Telkom telah melaksanakan sejumlah agenda strategis seperti pembangunan infrastruktur broadband, optimalisasi aset, dan inovasi produk-produk baru seperti IPTV, Delima, cloud computing. Semuanya itu, tambah dia, menunjukkan komitmen manajemen yang tetap solid dan pada beberapa sektor pertumbuhannya cukup meyakinkan, seperti broadband access dan layanan dalam portofolio information, media & edutainment. “Kami masih optimistis bahwa Telkom Group tetap mampu bersaing di tengah-tengah persaingan yang sangat tajam dalam industri telekomunikasi dan informasi,” papar dia.
Pendapatan Rp 9,13 T
Sementara itu, XL mampu mencatatakan laba bersih sebesar Rp Rp 1,52 triliun. Jumlah tersebut meningkat 15% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 1,32 triliun. Sedangkan normalisasi laba bersih menembus Rp 1,6 triliun, meningkat 18% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp 1,33 triliun. Xl menambahkan normalisasi laba bersih karena mengeluarkan biaya yang tidak biasa terjadi dan belum teralisasikan. Meski membukukan pertumbuhan laba hingga dua digit, pendapatan perseroan hanya mengalami peningkatan sebesar 8% menjadi Rp 9,13 triliun dari Rp 8,47 triliun.
Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan jumlah pelanggan bertambah sebesar 10% YoY dari 35,2 juta di Juni 2010 menjadi 38,9 juta di Juni 2011. Selain itu, lanjut dia, peningkatan pendapatan ditopang oleh pendapatan layanan data meningkat sebesar 47% menjadi Rp 1,54 triliun dari Rp 1,04 triliun. Jumlah tersebut, lanjut dia, memberikan kontribusi sebesar 21% terhadap total pendapatan pemakaian pelanggan. Ia mengatakan berdasarkan pertumbuhan tersebut, perseroan melihat adanya potensi besar di bisnis layanan data.
”Hal tersebut terkait perubahan perilaku pelanggan dari penggunaan layanan tradisional menuju layanan data. Kami akan lebih fokus dalam mengembangkan bisnis layanan data dengan cara memperkuat departemen kami secara keseluruhan,” papar Hasnul.
Untuk itu, lanjut Hasnul, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 3 triliun untuk layanan data. Ia mengatakan jumlah tersebut merupakan separuh dari total capex yang dialokasikan perseron tahun ini sebesar Tp 6 triliun. Tak heran. Tambah dia, selama 12 bulan terakhir perseroan telah menambah BTS sebanyak 4.084 BTS (2G/3G) di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.220 merupakan 3G BTS. Dengan demikian, total BTS (2G/3G) yang dimiliki perseroan menjadi 24.971 BTS.
Selain itu, Hasnul menjelaskan XL mencairkan fasilitas pinjaman dalam rupiah sebesar Rp 500 miliar serta fasilitas pinjaman sebesar USD 59 juta sepanjang kuartal II 2011. Pada saat yang bersamaan, ia mengatakan perseroan telah melakukan pembayaran pinjaman dipercepat sebesar Rp 900 miliar dan pembayaran pinjaman yang sudah jatuh tempo sebesar USD 24,1 juta. Pembayaran tersebut, tambah dia, menggunakan arus kas internal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar