Selasa, 19 Juli 2011

Capital Inflow Capai US$ 25 M

Capital Inflow Capai US$ 25 M

Ekonom Faisal Basri mengatakan secara fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kuat. Hal tersebut membuat capital inflow untuk masuk ke dalam negeri masih akan mengalir deras. Ia memperkirakan potensi capital inflow tahun ini bisa mencapai US$ 25 miliar. Bahkan, lanjut dia, cadangan devisa Indonesia pada akhir tahun diperkirakan akan mencapai US$ 125-130 miliar. Sedangkan saat ini hanya sebesar US$ 119 miliar. 

Faisal mengingatkan untuk tidak terlalu khawatir dengan inflasi yang terjadi di dalam negeri. Menurutnya, inflasi tersebut membuat perkembangan ekonomi di Indonesia semakin sehat. “Istilahnya, seperti orang naik sepeda, semakin banyak keringatnya kan semakin bagus,” ungkap dia di sela diskusi Komunitas Pemerhati Pasar Modal di Jakarta, Senin (18/7).

Lebih lanjut Faisal menilai capital inflow yang masuk saat ini sudah semakin bermutu. Hal ini terlihat pada Foreign Direct Investment (FDI) dalam perbandingan antara hot money dengan portofolio yang dimiliki. Menurut dia, jika pada 2009 perbandingannya 1:4, 2010 menjadi 2:3, sedangkan pada kuartal 1 2011 telah mencetak menjadi 3:3,5.

Faisal membantah apabila yang terjadi saat ini adalah buble. Sebab, lanjut dia, saat ini pertumbuhan Indonesia didukung oleh pertumbuhan di kelas menengah yang ditandai dengan telah mencapainya GDP Indonesia hingga menembus US$ 3.000. Serta jumlah usia muda produksif selama 2010-2025. Hal tersebut, lanjut dia, membuat tingkat keyakinan terhadap pertumbuhan ekonomi masih akan menguat hingga 2015.

“Namun, sangat disayangkan pertumbuhan ekonomi yang berimbas pada menguatnya pasar modal Indonesia hanya dinikmati oleh investor asing. Sebab, saat ini sebanyak 70% pemodal di pasar modal Indonesia adalah investor asing,” jelas Faisal.

Sementara itu, ekonom Anggito Abimanyu Anggituio memperkirakan tahun ini capital inflow yang masuk ke Indonesia tidak akan sederas 2010. Sebab, ia memperkirakan hanya akan berada di bawah US$ 20 miliar. Sedangkan tahun lalu, lanjut dia, capital inflow 2010 mencapai US$ 25 miliar. Hal ini terjadi karena uang tengah mencari tempat yang menghasilkan rerturn menjanjikan  di tengah kondisi Amerika Serikat (AS) yang tengah konsolidasi dan Eropa yang rapuh.

Meskipun demikian, ia menyatakan derasnya capital inflow ini masih dibayang-bayangi dengan adanya suddent reversal. Untuk itu, ia menghimbau pemetintah untukm menyiapkan instrumen jangka panjang yang dapat menahan laju capital inflow di dalam negeri. Menurut dia, instrumen tersebut diantaranya adalah perbaikan infrastruktur dan mendorong perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di lantai bursa.

“Kalau bisa sebanyak mungkin perusahaan melantai di bursa efek Indonesia agar bisa menampung kebutuhan funding yang masuk ke pasar modal,” papar Anggito. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar