Jumat, 22 Juli 2011

Menteri : Holding Perkebunan IPO Semester I 2012



JAKARTA – Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar optimistis holding perkebunan yang terdiri dari 15 PTPN akan melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada semester I 2011. Sebab, holding tersebut diperkirakan selesai terbentuk pada kuartal III 2011 dan setelah itu akan diproses persiapan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Begitu selesai holding mereka, bisa langsung bersiap untuk IPO. Saya berharap pada semester I 2012 ada BUMN kita yang go public. Namun, berapa lama selesai go public tersebut tergantung pada proses di Bapepam,” ungkap Mustafa di Jakarta, Jumat (22/7).

Mustafa mengatakan dengan holding perkebunan tersebut akan membuat perusahaan BUMN yang bergerak di bidang tersebut akan menjadi sangat perkasa. Terlebih, lanjut dia, perkebunan tersebut akan lebih fokus pada karet dan CPO. Bahkan, lanjut dia, akan lebih bagus dibandingkan dengan perusahaan perkebunan milik Malaysia. Namun, Mustafa mengaku masih belum menentukan nama untuk holding perkebunan tersebut. “Nanti baru akan kita tentukan,” ujar dia.

Lebih lanjut Mustafa menjelaskan hingga saat ini belum menghitung besarnya dana yang dibutuhkan oleh holding pekebunan tersebut. Meskipun demikian, ia berharap dana yang akan diraup pada saat IPO mendatang akan sangat besar.

Sementara itu, Deputi Bidang Industri Primer Megananda Daryanto menjelaskan jika holding BUMN akan menjadi pemain global dan menjadi salah satu perusahaan produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia. Pada tahun lalu produksi CPO seluruh BUMN Perkebunan mencapai 2,87 juta ton, sedangkan tahun ini produksi CPO ditargetka dapat mencapai 3,15 juta ton.
”Produksi CPO langsung menjadi kelas dunia, dan bisa menjadi yang terbesar dan akan langsung masuk ke dalam sepuluh BUMN terbesar. Saat ini PTPN III dan IV masing-masing berada pada posisi ke 23 dan 24,” ujar Megananda.
Megananda mengungkapkan, dengan bersatunya BUMN perkebunan tersebut, jumlah aset total BUMN perkebunan akan melejit. Ini memberikan keuntungan baru, pasalnya induk BUMN perkebunan nantinya akan semakin dilirik perbankan, sehingga dengan BUMN perkebunan dapat melakukan pinjaman.Menurut Megananda, saat ini aset keseuruhan BUMN perkebunan Rp 44 triliun dan mencetak pendapatan sekitar Rp 40 triliun, serta laba sekitar Rp 3,3 triliun.

Dengan aset dan pendapatan yang besar, lanjut dia, akan menarik bank-bank untuk memberikan pendanaan pada holding perkebunan tersebut. “Pada akhirnya, fungsi induk usaha nantinya juga melakukan peminjaman ke perbankan dan menyalurkannya ke anak usahanya yang kurang bankable,” terang dia.

Pada kesempatan yang sama, Mustafa mengatakan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bergabung dalam Forum Komunikasi Investasi (FKI) BUMN. Forum tersebut  merupakan wadah investasi bagi perusahaan-perusahaan milik negara. Menurut dia, dengan bergabungnya BNI, forum ini diperkirakan berpotensi menghimpun dana Rp 300-330 triliun pada tahun ini. “BNI akan menjadi kreditor,” tandas Mustafa. (c07/iin).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar