Harga SUN Lanjutkan Penguatan
JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) bertenor panjang diatas 10 tahun diprediksi akan melanjutkan penguatan pada pekan ini. Sebab, kondisi di global maupun domestik diperkirakan masih diliputi dengan sentimen positif pada pekan ini. Alhasil, imbal hasil (yield) pada pekan ini tenor tersebut diperkirakan mengalami penurunan sebesar 5-20 basis poin.
Kondisi global diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kondisi Eropa dan Amerika Serikat (AS). Di Kawasan Eropa, sentimen positif terjadi setelah Jerman dan Prancis telah mencapai kesepakatan tentang strategi bantuan untuk Yunani. Langkah tersebut dianggap merupakan sebuah langkah untuk melokalisir krisis Yunani agar tidak menjalar ke nagara lainnya di Eropa.
Hal tersebut ditambah lagi dengan kondisi Surat Utang AS yang memberikan sinyal positif. Hal tersebut menyusul kabar yang menyebutkan pihak partai Republik akhirnya setuju untuk menambah plafon utang sebesar US$ 2,4 triliun dari posisi sekarang US$ 14,3 triliun (Rp 122.265 triliun).
Sedangkan kondisi dalam negeri diperkuat dengan sentimen positif dari pekembangan inflasi Juli yang akan diumumkan pada awal pekan mendatang. Namun, beberapa ekonomi dan analis memperkirakan inflasi akan mengalami penurunan sebanyak 1% dibandingkan engan periode yang sama pada tahun lalu. Dengan demikian, inflasi diperkirakan menyentuh angka dibawah 5%.
Namun, sentimen positif yang terjadi di global maupun domestik masih harus diwaspadai. Sebab, kesepakatan Prancis dan Jerman belum tertuang dalam pembahasan yang lebih rinci lagi. Hal tersebut membuat pemodal masih akan melancarkan aksi wait and see pada pekan ini. Demikian rangkuman analisa ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya.
Juniman menambahkan dengan sentimen positif global dan domestik akan mendorong mendorong pemodal asing maupun domestik untuk masuk ke SUN terutama bertenor panjang pada pekan ini. Namun, lanjut dia, sentimen paling berpengaruh pekan ini adalah pengumuman inflasi menimbulkan ekspektasi bahwa inflasi pada akhir tahun hanya akan berada di sekitar 5,5%.
“Hal tersebut membuat yield tenor 10 tahun keatas akan mengalami penurunan sebesar 5-20 basisi poin,” ungkap Juniman kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
Namun, Juniman memperkirakan pemodal asing akan lebih mendominasi dalam masuk ke obligasi pada semester II 2011. Hal tersebut, tambah dia, dapat dilihat dengan posisi kepemilikan SUN asing yang menembus Rp 243 triliun pada akhir pekan lalui. Jumlah tersebut setara dengan 35% dari total SUN Indonesia. “Pada semester II pemodal asing diperkirakan akan masuk lebih banyak lagi. Hal tersebut seiring dengan penguatan rupiah dan Indonesia diperkirakan masiih akan memberikan return yang baik pada tahun ini,” papar dia.
Pergerakan Flat
Sementara itu, Edbert menilai pasar SUN pekan depan akan bergerak flat. Sebab, lanjut dia, pemodal lokal cenderung masih akan wait and see seperti pekan-pekan sebelumnya. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi efek dari inflasi yang berdasarkan data historis selalu naik di kuartal ke 3. “Selain itu, investor asing saya perkirakan juga masih cenderung untuk menunggu sambil mengevaluasi kembali portofolionya setelah kabar bahwa bailout Yunani yang saya dengar sudah disetujui,” jelas dia.
Lebih lanjut Edbert mengatakan kabar bailout tersebut bisa saja membuat kepercayaan terhadap Eropa kembali tumbuh dan investor berpikir untuk mulai kembali mengalokasikan dana investasi kesana. Namun, tambah dia, dalam jangka panjang bailout Yunani tersebut tidak akan terlalu berpengaruh terhadap pasar obligasi Indonesia. Sebab, daya tarik Indonesia masih terlalu kuat dibandingkan dengan yang lain.
“Mulai dari prospek ekonomi sampai penguatan nilai tukar yang membuat investasi di Indonesia menjadi semakin menarik. Saya pun memperkirakan pasar SUN juga hanya akan bergerak mendatar di kisaran +/- 5 basis poin saja,” tands Ebdert. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar