Kamis, 29 Desember 2011

Indeks Berpotensi 4.275-4.450

JAKARTA – PT Samuel Sekuritas Indonesia memprediksi indeks berpotensi bergerak di level 4.275-4.450 pada 2012. Hal tersebut seiring dengan pergerakan indeks sejak 2008 yang menunjukan tren bulish dan diperkirakan masih berlanjut pada tahun depan. 

Vice President and Senior Technical Analyst Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih Indonesia menjelaskan trend bulis ini ditopang dengan optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan tumbuh 6,7% pada tahun depan. Hal ini seiring dengan kekuatan konsumsi domestic dan tingkat bunga yang relative rendah. Ditambah lagi, lanjut dia, pada tahun depan kinerja emiten masih akan baik. 

“Dengan pendekatan bottom-up, kami mendapatkan target indeks di level 4.275 – 4.450 pada tahun depan. Target indek tersebut mentraslasikan rasio price to earning (PER) 14,8x dan pertumbuhan EPS 16,7%,” ungkap Alfatih di Jakarta, Kamis (29/12). 

Dari sisi valuasi, Alfatih menilai Indonesia masih layak di perdagangkan premium dibandingkan dengan bursa lain di Kawasan Asia. Hal tersebut, lanjut dia, terjustifikasi oleh rasio return on equity (ROE) tertinggi di Asia. Serta ratio Price/earning to growth (PEG) yang relative rendah hanya 0,6x. Menurutnya, angka tersebut merupakan ketiga terendah di Asia. 

Terlebih lagi, lanjut Alfatih, dengan ditetapkannya rating Indonesia sebagai investment grade oleh Fitch Ratings. Hal tersebut akan berdampak positif pada persepsi resiko investor asing terhadap pasar modal Indonesia. Mengingat, Indonesia akan menjadi pilihan investor asal Eropa dan Amerika Serikat (AS) ditengah ancaman potensi resesi ekonomi dari kawasan Eropa. “Hal tersebut akan semakin deras apabila lembaga pemeringkat dunia lainnya akan memberikan peringkat yang sama kepada Indonesia,” papar Alfatih.  

Alfatih menjelaskan, sektor-sektor saham yang berpotensi pada tahun depan adalah sektor consumer goods, properti, perbankan, dan infrastruktur. Sektor tersebut, lanjut dia, sangat bersentuhan langsung dengan konsumsi domestic.Soalnya, konsumsi domestic akan semakin meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan per kapita sertta jumlah penduduk. Sedangkan untuk infrastruktur, ia menjelaskan hal tersebut akan ditopang oleh kontribusi pemerintah yang menaikan anggaran infrastruktur sebesar 36% atau mencapai Rp 168,1 triliun pada tahun depan. 

Sementara untuk saham sector tambang, Alfatih memperkirakan akan mulai berkurang pergerakannya dibandingkan tahun ini seiring adanya resiko penurunan harga komoditas dunia. Hal tersebut sebagai akibat dari penurunan demand dari Eropa mengingat ekonomi di kawasan tersebut akan mengalami perlambatan. Ditambah lagi, tambahnya, dengan potensi penguatan nilai tukar dollar terhadap ruipiah seiring dengan ekspektasi perbaikan ekonomi di AS. 

“Untuk itu, kami merekomendasikan saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang kami anggap masih memiliki potensi bagus. Selain itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Indofood Tbk (INDF), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS),” tutur Alfatih.(iin)

PP Bukukan Kontrak Baru Rp 11,8 T

JAKARTA – PT PP Tbk (PTPP) membukukan kontrak baru sebesar Rp 11,8 triliun hingga minggu ketiga Desember 2011. Hal ini berkat keberhasilan perseroan mememangkan tender dari pemerintah Timor Leste untuk pembangunan Ministry of Finance Building dengan nilai kontrak mencapai US$ 21,7 juta. 

Sekretaris Perusahaan PP Betty Ariana menjelaskan lingkup pekerjaan pembangunan tersebut meliputi struktur, arsitektur serta mekanikal & elektrikal, yaitu pembangunan gedung seluas 20.038 m2 di Aitarac Laran, Dilli. pembanguan tersebut, lanjut dia, ini akan diselesaikan dalam waktu 18 bulan. “Dengan diperolehnya proyek Ministry of Finance Building Timor Leste, lanjut dia, diharapkan sebagai langkah awal dalam menangkap peluang pasar konstruksi yang lebih besar dinegara tersebut,” ungkap Betty dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (28/12). 

Betty mengatakan jika ditambah dengan carry over tahun lalu sebesar Rp 6 triliun, total order book telah mencapai Rp 17,8 triliun. Jumlah tersebut, lanjut dia, dengan komposisi perolehan kontrak dan pendapatan perseroan masih didominasi oleh proyek pemerintah dan BUMN. Perseroan menunjukkan bahwa perolehan kontrak baru selalu meningkat signifikan pada kuartal 4 setiap tahunnya. “Dengan sisa waktu menjelang tutup tahun 2011, kami masih mengincar beberapa proyek yang sedang menunggu keputusan pemenang. Dengan demikian bekal untuk pendapatan tahun depan cukup aman,” papar Betty. 

Lebih lanjut Betty menjelaskan perseroan telah dipercaya untuk menangani pembangunan Bandar Udara di 6 lokasi, yaitu Bandara Sultan Thaha Jambi, Bandara Juwata Tarakan- Kalimantan Timur, Bandara Sepinggan Balikpapan, Bandara Samarinda Baru, Bandara Supadio Pontianak serta Bandara Ngurah Rai Bali. Total Nilai Kontrak keenam Bandara tersebut sebesar Rp 901 Milyar atau sekitar 8% dari total perolehan kontrak baru di tahun 2011. Ini merupakan bentuk kontribusi PTPP dalam pembangunan infrastruktur ditanah air sejalan dengan program MP3EI yang tengah menjadi prioritas pemerintah saat ini. 

“Proyek Bandara ini akan menambah deretan pengalaman perseroan dalam pembangunan bandara antara lain Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Hasanudin Makasar, Garuda Maintenance Facilities Jakarta International Airport Cengkareng,” tandas Betty. (iin)

Jasa Marga Naikan Capex Jadi Rp 7,7 T

JAKARTA - PT Jasa Marga Tbk (JSMR) meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi Rp 7,7 triliun pada 2012. Sebelumnya,perseroan mengalokasikan capex sebesar Rp 6,5 triliun. 

Direktur Utama Jasa Marga Frans Sunito mengatakan peningkatan capex tersebut dilakukan karena perseroan meningkatkan alokasi capex kepada anak. Ia menjelaskan jika sebelumnya alokasi capex untuk anak usaha hanya Rp 5 triliiun menjadi Rp 6,3 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan akan dimulainya pembangunan sembilan ruas jalan tol baru yang dilakukan oleh anak usaha pada tahun depan.

Kesembilan ruas jalan tol tersebut adalah Bogor Ring Road, Gempol-Pasuruan, Semarang-Solo, Surabaya-Mojokerto, Gempol-Pandaan, Nusa Dua -Ngurah Rai - Benoa, JORR W2 Utara (Ulujami-Kebon Jeruk). Sreta dua ruas tol yang merupakan bagian JORR 2, yaitu Serpong-Kunciran dan Kunciran-Cengkareng. 

"2012-2013 akan menjadi tahun konstruksi kami, mengingat banyaknya pengerjaan ruas jalan tol baru," ungkap Frans di Jakarta, Kamis (29/12).  

Sedangkan sisa capex sebesar Rp 1,4 triliun, Frans menambahkan akan digunakan untuk moderenisasi peningkatan pelayanan, pekerjaan pemeliharaan rutin, dan overlay. Ditambah, lanjut dia, peningkatan kapasitas dengan pelebaran jalan. Ia menyebutkan tahun depan perseroan akan melebarkan jalan tol Jagorawi (Cibonong sampai Sentul), dan beberapa ruas di jalan tol Bandung. 

"Hal tersebut dilakukan untuk antisipasi meningkatnya volume lalu lintas," jelas Frans. 

Direktur Keuangan Reynaldi Heirmansjah menjelaskan sumber pendanaan akan berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Ia menjelaskan, penarikan pinjaman akan dilakukan ditingkat perseroan dan anak usaha. Dengan rincian anak usaha sebesar Rp 4,5 triliun dan perseroan Rp 1,6 triliun. Pinjaman tersebut, lanjut dia, sebagian besar akan berasal dari stand by loan yang telah dimiliki perseroan. 

Reynaldy menjelaskan khusus untuk proyek rual tol Nusa Dua - Ngurah Rai- Benoa, anak usaha masih belum mendapatkan fasilitas pinjaman bank. Ia menjelaskan saat ini perseroan tengah proses beauty contest. Ia mengharapkan proses tersebut akan selesai dan terpilih pada Januari 2012."Sedangkan sisa pendanaan capex lainnya, ia menjelaskan akan berasal dari kas internal," papar Reynaldi.

Reynaldi menambahkan tahun depan perseroan belum berencana menerbitkan obligasi pada tahun depan. Sebab, lanjut dia, tahun depan tidak ada kebutuhan refinancing utang. Meningat, utang perseroan baru akan jatuh tempo pada Juli 2013. Meskipun demikian, ia mengatakan perseroan tidak akan menutup kemungkinan adanya opsi tersebut. 

"Opsi tersebut akan memungkinkan apabila nantinya perseroan memutuskan untuk melakukan percepatan refinancing," ucap Reynaldi. 

Bidik Rp 5,4 T

Sementara itu, Frans menyebutkan perseroan membidik pendapatan Rp 5,4 triliun pada tahun depan. Jumlah tersebut, meningkat 11,1% dibandingkan estimasi akhir 2011 sebanyak Rp 4,9 triliun. Sednagkan estimasi tahun ini, lanjut dia, meningkat  11,7% dibandingkan dibandingkan pendapatan 2010 sebesar Rp 4,3 triliun. Ia memaparkan kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan volume lalu lintas pada tahun depan yang diprediksi mencapai 1,116 miliar kendaraan. 

"Jumlah volume lalu lintas tersebut meningkat 4,3% dibandingkan estimasi 2011 sebesar 1,07 miliar kendaraan," jelas Frans. 

Pada kesempatan yang samaa, Frans menyebutkan perseroan akan menjalin kerjasama dengan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) untuk membangun wahana edukasi di KM 88 Tol Purbaleunyi. Ia mengatakan, tahap I pembangunan akan dilakukan di  lahan seluah 25 hektar (haa) dari total lahan sebanyak 45 hektar. "Saat ini kajian bisnis sudah mendekati final. Ini menjadi salah satu usaha kami untuk meningkatkan pendapatan perseroan," tandas Frans. (Iin)

Rabu, 28 Desember 2011

CMNP Pangkas Obligasi Jadi Rp 1,5 T

JAKARTA – PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) memangkas rencana penerbitan obligasi menjadi Rp 1,5 triliun pada Mei atau Juni 2012. Sebelumnya, perseroan berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 3-4 triliun. 

Direktur Keuangan Cipta Marga Nusapala Persada Indrawan Sumantri mengatakan pemangkasan nilai obligasi tersebut dilakukan setelah perseroan mengkaji ulang nilai kebutuhan dan alokasi perseroan. Rencananya, dana tersebut hanya akan digunakan untuk akuisisi 2-3 ruas tol dari 24 ruas tol mangkrak mengikuti tender enam ruas tol dalam kota. Jika mendapatkan ruas tol yang diakuisisi tersebut, lanjut dia, seluruhnya akan berada dibawah PT Citra Persada Infrastruktur. 

Sebelumnya perseroan memasukan dana akuisisi perusahaan infrastruktur pertambangan dan pembangunan jalan tol yang diinisiasi perseroan. Dengan jumlah tersebut, perseroan membutuhkan dana sebesar Rp 4-5 triliun.  

“Setelah dihitung ulang kebutuhannya hanya sebesar Rp 1,5 triliun. Kami perkirakan sudah mendapatkan dana tersebut pada Mei-Juni 2012,” ungkap Indrawan di sela paparan public di Jakarta, Rabu (28/12). 

Indrawan menambahkan kemungkinan besar akan melakukan penerbitan obligasi secara berkelanjutan. Sebab, lanjut dia, beberapa penjamin emisi (underwriter) menyarankan hal tersebut mengingat dengan obligasi berkelanjutan peluang negative carry akan lebih kecil. Namun, ia mengatakan saat ini perseroan masih belum menentukan underwriter. Namun, ia menyebutkan saat ini sudah ada tiga underwriter yang tengah berbicara dengan perseroan. 

“Nantinya akan sesuai dengan kemampuan underwiter sendiri dalam menjamin emisi tersebut. Diharapkan penunjukan underwriter ini bisa tuntas pada dua hingga tiga bulan mendatang,” ucap Indrawan. 

Lebih lanjut Indrawan menuturkan, penerbitan obligasi tersebut akan menggunakan buku Desember 2012 dan bertenor lima tahun. Ia pun menjelaskan pihaknya telah memasukan persyaratan administrasi untuk mendapatkan rating kepada PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). “Namun, kami belum melengkapi persyaratan proyeksi keuangan kepada Pefindo. Kemungkinan Januari mendatang baru kami ajukan,” jelas dia. 

Capex Rp 500 M

Pada kesempatan yang sama, Indrawan mengatakan perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 550 miliar. Dana capex tersebut, lanjut dia, akan berasal dari kas internal. Ia menjelaskan capex tersebut akan dialokasikan untuk proyek jalan tol Depok-Antasari sebesar Rp 500 miliar dan sisanya untuk perawatan. “Saat ini posisi kas internal kami sangat kuat,” tegas dia. 

Indra menjelaskan pada 2012 perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 856 miliar. Jumlah tersebut meningkat 15,44% dibandingkan dengan estimasi pendapatan tahun ini sebesar Rp 791 miliar. Sedangkan laba bersih, tambah dia, ditargetkan tumbuh 3,9% menjadi Rp 320 miliar dari Rp 308 miliar. Ia menjelaskan kenaikan tersebut akan disumbangkan oleh kenaikan tariff tol yang akan dinikmati dalam satu tahun penuh setelah mengalami kenaikan pada Oktober lalu. Serta kenaikan tol Surabaya sebesar 10% pada tahun depan. 

“Ditambah kenaikan volume lalu lintas. Jika tahun ini volume lalu lintas di Jalan tol dalam kota Jakarta (JIUT) 193 juta dan Waru-Djuanda 8,9 juta. Sedangkan, pada tahun depan akan menjadi 195 juta kendaraan di JIUT dan 9,7 juta kendaraan di Waru-Djuanda,” paparnya. (iin)

Harga IPO TiPhone Dipatok Rp 310

JAKARTA - PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk menentukan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Rp 310 per saham. Sebelumnya, saham TiPhone ditawarkan pada kisaran harga Rp 250-350 per saham. 

Direktur Sinarmas Securities, selaku penjamin emisi, Andreas S Tjendana menjelaskan harga tersebut mencerminkan tingkat rasio harga saham terhadap laba bersih perseroan (price to earnings ratio/ PER) sebesar 7 kali. “Dengan harga tersebut mengalami kelebihan permintaan (oversubscribes) sebanyak 6 kali. Hal tersebut mencerminkan minat investor sangat bagus terhadap saham tersebut,” ungkap Andreas kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (27/12). 

Andreas menambahkan, penentuan harga tersebut sesuai dengan permintaan pasar selama masa penawaran awal (book building) pada 15-21 Desember 2011. Ia pun menjelaskan institusi asing banyak yang berminat untuk memikiki saham TiPhone selama masa bookbuilding. Namun, ia tidak menyebutkan lebih lanjut mengenai porsi kepemilikan institusi asing tersebut. 

Lebih lanjut Andreas menambahkan dalam IPO tersebut perseroan memperkecil porsi saham yang dilepas dari 40,08% menjadi 25% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh senilai 6.675.000.000. Dengan demikian, saham yang dilepas dalam IPO tersebut mencapai 1.668.750.000 saham. Sedangkan dana yang diraup akan menjadi sekitar Rp 517,3 miliar. Menurutnya, pengurangan porsi IPO tersebut dilakukan karena melihat situasi ekonomi saat ini masih belum bagus. 

Meskipun demikian, Andreas menegaskan perseroan akan tetap menjalankan rencana penawaran umum (pooling) dan pencatatan saahm seperti yang dijadwalkan sebelumnya. Ia mengatakan pooling akan dilakukan pada 3-5 Januari 2012. Sedangkan pencatatan akan dilakukan pada 12 Januari 2012. 

Dalam IPO tersebut, perseroan juga tetap menawarkan waran seri I sebesar 1,33 miliar waran. Setiap pemegang dua saham baru berhak memperoleh satu waran. Waran yang diterbitkan memiliki tenor waktu lima tahun. Nilai nominal masing-masaing saham dan waran sebesar Rp100.

Sebelumnya, Komisaris Utama Hengky Setiawan menjelaskan 40% dana raihan IPO tersebut akan digunakan untuk melunasi seluruh utang anak usaha, PT Telesindo Shop kepada PT Bank DBS Indonesia sebesar Rp 360 miliar. Ia juga menjelaskan 28% perluasan usaha perseroan dan anak usaha. Sedangkan sisanya, tambah dia, akan digunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex). 

Hengky menjelaskan dengan capex tersebut perseroan akan membangun jaringan distribusi menjadi 250 ribu reseller dari 125 ribu reseller pada saat ini. Ditambah membangun jaringan service center menjadi 130 kota dari 25 kota yang ada saat ini. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengembangkan jumlah gerai Telesindo Shop dari 200 toko menjadi 350 toko pada tahun depan. “Serta investasi IT untuk pengontrolan dan distribusi produk lebih luas lagi,” tambah dia. 

Lebih lanjut Hengky menjelaskan perseroan optimistis pendapatan tahun depan akan mencapai Rp 8 triliun. Jumlah tersebut meningkat 21,2% dibandingkan dengan estimasi pendapatan tahun ini sebesar Rp 6,6 triliun. Sedangkan untuk laba bersih, lanjut dia, perseroan optimistis akan akan mencatatkan peningkatan 29,4% dari estimasi tahun ini sebesar Rp 170 miliar menjadi Rp 220 miliar. 

Dengan demikian, lanjut Hengky, perseroan optimistis akan mampu membayarkan dividen tunai kepada pe,egang saham sekurang-kurangnya 1 kali dalam setahun. “Sebanyak-banyaknya 25% dari laba bersih setelah pajak pada tahuin buku bersangkutan,” tambah dia. (iin)

Selasa, 27 Desember 2011

Indofarma Bidik Order Jepang Rp 100 M

JAKARTA – PT Indofarma Tbk (INAF) membidik pemesanan (order) penjualan obat deteksi dini dan terapi penyakit kanker, radiofarmaka, dari Jepang. Nilai dari order tersebut diperkirakan akan mencapai lebih dari Rp 50-100 miliar. Obat tersebut merupakan hasil kerjasama antara perseroan dengan Batan Technology (Batan Tech). 

“Potensi penjualan obat tersebut sangat besar, bahkan kebutuhan domestik saja diperkirakan akan mencapai Rp 50 miliar. Selain itu, kami juga akan mendapatkan order pembelian dari Jepang pada tahun depan, potensi nilai order tersebut diperkirakan akan lebih dari Rp 50 miliar,” ungkap Sekretaris Perusahaan Indofarma Ahdia Amini di Jakarta, Selasa (27/12). 

Namun, Ahdia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai kontrak tersebut. Ia hanya mengatakan pembeli tersebut merupakan sebuah rumah sakit dari Jepang dan akan melakukan MoU pada awal tahun mendatang. Ia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%.

“Langkah ini menjadi salah satu quantum leap perseroan dalam rangka net profit oriented. Alhasil, mampu menciptakan laba bersih yang besar di tahun mendatang dan juga memberikan dividen kepada pemegang saham,” jelas Ahdia. 

Ahdia menambahkan skema bisnis yang dijalankan dengan Batan Tech adalah win-win solution. Sebab, lanjut dia, dalam penjualan produk tersebut perseroan bertindak sebagai distributor atau marketing. Sedangkan Batan Tech sebagai pihak manufacturing. Dalam menjalankan bisnis tersebut, Ahdia mengatakan perseroan telah mendapat komitmen fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp 100 miliar. 

Lebih lanjut Ahdia mengatakan pinjamna tersebut akan digunakan untuk membiayai pembuatan radiofarmaka oleh Batan Tech. Rencananya, lanjut dia, pada tahun depan pinjaman tersebut akan dicairkan separuhnya. “Hal tersebut untuk memenuhi permintaan di 2012. Selama ini, pendaanaan yang menjadi masalah penting bagi Batan Tech dalam memproduksi radiofarmaka tersebut,” jelas dia. 

Selain Radiofarmaka, Ahdia menjelaskan perseroan juga akan mengembangkan obat yang memiliki margin besar dan memiliki pesaing yang minim. Untuk itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengeluncurkan 16 jenis obat baru pada 2012. “Empat dari 16 obat baru tersebut merupakan obat tanpa resep (otc),” tandas dia. (iin)

Harga SUN Bergerak Sideways

JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi naik pada pekan ini. Hal tersebur seiring dengan sentiment positif dari data ekonomi yang dikeluarkan Amerika Serikat (AS). Sentimen tersebut diperkirakan baru akan menggerakan pasar pada awal pekan ini. Hal tersebut membuat imbas hasil (yield) obligasi semua tenor akan berpotensi hanya turun 5-10 basis poin (bps).

Namun, sentiment positif tersebut diperkirakan tidak akan memberikan pengaruh banyak pada pergerakan harga di pekan ini. Alhasil, pergerakan harga obligasi hanya akan sangat terbatas. Sebab, lanjut dia, seiring dengan sepinya perdagangan pada pekan ini. Menyusul dengan adanya libur Natal dan tahun baru 2012. Bahkan, dalam negeri tidak ada data ekonomi yang akan dirilis pada pekan ini. Disisi lain, kondisi tersebut hanya akan membuat pergerakan harga SUN sideways. 

Untuk itu, investor disarankan untuk tetap wait and see di sepanjang pekan ini. Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT NC Securities I Made Adi Saputra kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Made menambahkan kondisi tersebut semakin lengkap dengan minimnya sentiment positif di dalam negeri pada pekan ini. Sebab, lanjut dia, baru awal minggu depan yang akan menyampaikan data inflasi sekaligus membuka perdagangan pada tahun 2012. Meskipun demikian, sentimen dari luar negeri berupa data ekonomi amerika yang pada pakan kemarin sudah menunjukkan bahwa ekonomi di negara tersebut menunjukkan perbaikan dan diharapkan pada pekan ini masih akan memberikan sentimen positif. 

“Kemungkinan dampak dari data ekonomi yg direlease pd hari jumat kemarin akan berdampak pada perdagangan di hari selasa dengan potensi kenaikan harga. Saya perkirakan selama sepekan mendatang harga obligasi akan bergerak terbatas dengan potensi penguatan harga pada obligasi bertenor panjang,” ungkap Made. 

Lebih lanjut Made mengatakan yield dari obligasi negara bertenor 5 tahun akan berada pada kisaran 5-5,2%. Obligasi negara bertenor 10 tahun akan berada pada kisaran 6,1-6,2%. Sedangkan yield obligasi negara bertenor 20 tahun akan berada pada kisaran 7,0 - 7,15%. Dengan terbatasnya pergerakan obligasi negara dan adanya potensi kenaikan harga pada obligasi negara bertenor panjang. 

“Investor pun disarankan untuk melakukan trading jangka pendek terhadap isntrumen obligasi negara bertenor panjang,” ujar Made. 

Sideways

Sementara itu, Juniman memprediksi sepi dan tipisnya perdagangan pekan ini membuat harga sun bergerak sideways. Alhasil, lanjut dia, yield tidak akan mnegalami perubahan yang banyak dan hanya bergerak di kisaran 5-10 bps. Dengan kondisi tersebut, membuat investor masih melakukan wait and see hingga pergantian tahun. “Baru di pekan kedua 2012 investor akan mengambil posisi. Seiring dengan adanya pengumuman data inflasi domestic dan data-datang lainnya di regional,” jelas dia. 

Juniman memperkirakan inflasi yang terjadi di Desember mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Ia memperkirakan 0,97% dan akan berada di kisaran 4,2%. Hal tersebut, lanjut dia, ditopang oleh naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok menjelang Natal dan tahun baru. Ia bahkan memperkirtakan kenaikan inflasi yangn terjadidi Desember lebih tinggi dibandingkan yang terjadi pada Agustus 2011 atau disaat menjelang hari Raya Lebaran. 

Dengan melihat pertumbuhan inflasi di Desember, Juniman memperkirkana tahun depan inflasi akan bergerak di kisaran 5-6%. Hal tersebut sieirng dengan kenaiakn harga bahan pokok dan ditambang lagi dengan adanya rencana menauikan BBM dan juga tariff listrik. Hal tersebut, lanjut dia, membuat  asing masih berhati-hati untuk masuk dalam obligasi Indonessia. Menueutnya, asing tidak terlalu berminat dengan obligasi Indonesia saat ini karena posisi yield yang ada saat ini. 

“Hal ini tercermin dengan tidak berubahanya jumlah kepemilihan asing di obligasi yang hanya sekitar Rp 230 triliun,” papar Juniman. (iin)

Trada Maritime Gelar Rights Issue 2012

JAKARTA – PT Trada Maritime Tbk (TRAM) berencana untuk menggelar penawaran umum terbatas (rights issue) saham pada awal 2012. Aksi korporasi tersebut dilakukan untuk mendukung pendanaan ekspansi perseroan di bidang pertambangan batubara mencapai US$ 400-600 juta. 

Dalam rangka persersiapan rights issue, Trada telah menunjuk PT HD Capital Tbk sebagai financial advisor mereka. Hal tersebut terkait rencana untuk masuk ke sector tambang batubara secara terintegrasi. Mulai dari pengolahan tambang, pengangkutan, hingga penjualan akhir. Seiring dengan pembelian convertible bonds yang diterbitkan PT Awesome Coal pada September 2011. 

Pembelian tersebut tertuang pada Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan asal Uni emirat Arab, Zakia Limited, yang meiliki CB tersebut. Dengan demikian, Trada berpeluang memiliki tambang batu bara di Mantar, Damai, dan Kutai Barat, yang dimiliki oleh Awesome Coal. Ketiga lokasi itu terletak di Kalimantan Timur, dengan total luas 5.530 hektar.

“Kami ditunjuk Trada Maritime untuk financial advisory. Mereka berencana melakukan rights issue pada awal tahun depan. Hal ini terkait dengan MoU convertible bond yang ditandatangi perseroan dengan Zakia Limited pada beberapa waktu lalu,” ungkap Presiden Direktur HD Capital Antony Kristanto

Namun, Anthony masih enggan untuk menjelaskan dana yang dibidik perseroan dalam aksi korporasi tersebut. Ia hanya mengatakan untuk ekspansi di batubara tersebut perseroan akan membutuhkan dana sebesar sebanyak US$ 400-600 juta. “Hal ini masih dalam proses pertimbangan lebih lanjut,” jelas dia. 

Sementara itu, Direktur Keuangan Trada Maritime Adrian E Sjamsul tidak memungkiri rencana tersebut. Ia menjelaskan hal tersebut diambil sebagai opsi pendanaan perseroan dalam memasuki bisnis pertambangan batubara secara terintegrasi. Namun, ia pun mengaku masih belum dapat menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Sebab, lanjut dia, hal tersebut dilakukan sesuai dengan size kebutuhan dalam pengembangan bisnis tersebut. 

“Sektor batubara merupakan impian kami. Kami akan mengembangkan bisnis ini secara integrasi. Untuk itu, begitu akuisisi dilakukan, persiapan kami selanjutnya adalah mengenai trasportasinya,” jelas Adrian. 

Adrian menjelaskan, perseroan tertarik untuk masuk dalam bisnis batubara karena sector ini semakin menjanjikan di masa mendatang. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya kebutuhan batubara di dunia, seiring dengan kebutuhan energi dunia. Ia pun menjelaskan tambang yang akan mereka akuisisi tersebut memiliki kalori yang tinggi. Namun, ia enggan untuk menyebutkan jumlah kalori tersebut. “Saat ini, tambang batubara tersebut tenagh dipersiapkan infrasturkturnya,” lanjut dia. 

Lebih lanjut Adrian mengatakan akan mengandeng partner dalam penggarapan bisnis batubara tersebut. Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan karena perseroan masih belum memiliki pengalaman dalam mengelola bisnis tambang batubara secara keseluruhan. Saat ini, ia mengatakan masih berbicara dengan beberapa pihak untuk dijadikan partner dalam bisnis tersebut. Namun, lanjut dia, sebenarnya perseroan telah mempersiapkan diri sejak lama untuk masuk di bisnis batubara tersebut. 

“Hal ini terbukti dengan sudah adanya bisnis tug and barges kami. Bahkan telah melayani PT Berau Coal Energy Tbk. Nantinya, akan ada dua lini bisnis usaha dibawah Trada, yaitu pelayaran dan tambang batubara,” tambah Adrian. (iin)

Semen Gresik Kaji Obligasi Berkelanjutan Rp 3,3 T

JAKARTA – PT Semen Gresik Tbk (SMGR) mengkaji penerbitan obligasi berkelanjutan sekitar Rp 3,3 triliun pada 2012. Dan atersebut digunakan untuk membiayai ekspansi perseroan di tahun depan yang diperkirakan mencapai Rp 5,5 triliun. 

“Saat ini kami masih kaji sumber pendaan dan berdiskusi dengan beberapa lembaga keuangan. Yang jelas saya perkirakan 60% dari total dana yang dibutuhkan dari eksternal. Menurut kami, obligasi saat ini sangat bagus dalam pendanaan,” ungkap Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto di Jakarta, Jumat (23/12). 

Lebih lanjut Dwi menjelaskan pada tahun depan ekspansi perseroan akan menghabiskan Rp 5,5 triliun. Dana tersebut, lanjut dia, diginakan untuk menyelesaikan pembagunan dua pabrik dan satu pembangkit listrikl yang sedang berjalan. Ditambah lagi dengan persiapan pembangunan proyek baru di Sumatera dan Jawa. “Kepastian mengenai penerbitan obligasi tersebut baru akan ditentukan pada pertengahan tahun mendatang. Saat ini, kas kami masih sangat cukup untuk memenuhi pendanaan tersebut,” ucap dia.  

Sementara itu, Direktur Keuangan Semen Gresik Ahyanizzaman menjelaskan obligasi merupakan pendanaan yang paling ideal dibandingkan sumber eksternal lainnya. Ia mencontohkan pinjaman bank dikhawatirkan akan sangat berfluktuatif perkembangan tingkat suku bunganya. “Jika suku bunga kembali naik, hal ini bisa berbahaya bagi kami,” tegas dia. 

Ahyanizzaman menambahkan kemungkinan denominasi obligasi tersebut adalah rupiah dan ditawarkan di dalam negeri. Menurut dia, hal tersbeut dilakukan kerena penerimaan perseroan sebagian besar adalah local. Ia menjelaskan apabila di keluarkan dalam dollar dan di luar negeri, perseroan harus memperhitungan hedging. Alhasil, lanjut dia, hal tersebut malah akan membuat biaya menjadi lebih tinggi. 

“Kalaupun harus memenuihi capex dengan dollar dan euro, kita bisa spot atau mungkin kita jangka pendek atau menengah,” papar Ahyanizzaman. 

Ahyanizzaman bahkan mengatakan tidak menutup kemungkinan apabila perseroan mengkaji opsi penerbitan obligasi secara berkelanjutan. Hal tersebut dilakukan aghar tidak negative carry. Ia pun mengatakan opsi tertsebut diambil berdasarkan melihat keberhasilan dikarenakan obligasi ini seperti yang dilakukan oleh PT Antam Tbk (ANTM). Namun, lanjut dia, perseroan masih melihat kondisi pasar seperti apa di tahun depan. 

Lebih lanjut Ahyanizzaman memperkirakan keputusan untuk obligasi tersebut kemungkinana akna dimintakan persetuuan terlebih dahulu kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Rencannaya, lanjut dia, hal tersebut akan digelar setelah laporan keuangan perseroan dikeluarkan atau Mei mendatang. “Dengan demikian, semester I akhir fund rising akan lebih intens,” papar dia. 

Optimistis naik 12%

Pada kesempatan yang sama, Dwi menjelaskan pada akhir 2011 perseroan optimistis akan mencetak kenaiakan pendapatan sebesar 12% dibandingan pendapatan tahun lalu sebesar Rp 14,3 triliun. Untuk laba bersih, lanjut dia, kemungkinan akan meningkat 8-10%. Sedangkan pada 2010, perseroan mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,6 triliun. 

Sebelumnya, Semen Gresik menargetkan penjualan 2012 bisa meningkat menjadi 10% menjadi sekitar Rp 15,77 triliun. Pada 2010, pendapatan bisa mencapai Rp 14,3 triliun. Meningkatnya pendapatan ini akan ditopang oleh naiknya produksi perseroan karena semakin optimalnya dua fungsi pabrik di Tuban dan Tonasa. Dengan demikian, target produksi perseroan tahun depan akan menjadi 22,5 juta ton. 

“Tahun depan kita akan diutungkan oleh meningkatnya produksi. Produksi bisa digenjot, sekitar 2 juta. Sehingga penjualan bisa meningkat minimal 10%,” kata Dwi. 

Namun, Dwi mengaku terkait harga jual perseroan belum mengaklkulasi rinci, berapa kenaikannya dibanding tahun ini. Hanya saja, dipastikan harga akan meningkat, seiring dengan meningkatnya demand akan semen sekitar 16%. “Tahun depan demand-nya naik sekitar 16%, seiring dengan meningkatnya pembangunan dan program percepatan infratsruktur,” kata dia.

Tahun ini, Semen Gresik menargetkan bisa menyelasaikan pabrik SemenTonasa. Dengan selesainya pabrik ini, akan ada tambahan kapasitas sebesar 2,5 juta ton. Sementara tahun depan, pabrik di Semen Padang ditargetkan bisa menambah kapasitas sebesar 2,5 juta ton juga. Pabrik ini ditargetkan tuntas pada Maret atau April 2012.   

Pada 2011 ini, kapasitas produksi Semen Gresik secara keseluruhan ditargetkan mencapai 20,2 juta ton. Dari target produksi tersebut, penjualan semen diharapkan bisa mencapai sebesar 19,5 juta ton. Produksi terbesar dikontribusikan dari produksi Semen Gresik sebesar 10 juta ton, Semen Padang 6,1 juta ton, dan Semen Tonasa 4,1 juta ton. Tahun depan, kapasitas produksi diharapkan bisa mencapai 22,5-23 juta ton. (iin) 

Greenwood Siap Investasi Rp 4,8 T

JAKARTA - PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA) siapp investasi sebesar 0Rp 4,8 triliun hingga 2017. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan The City Center Batavia di Jakarta.  

Direktur Keuangan Greenwood Sejahtera Bambang Dwi Yanto mengatakan dana tersebut akan berasal dari hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO)
saham sebesar Rp 400 miliar. Ditambah fasilitas pinjaman bank yang belum digunakan dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebesar Rp 230 miliar, serta penjualan unit dari proyek tersebut. “Ada kemungkinan kami akan menambah pinjaman dari bank CIMB Niaga," ungkap Bambang di Jakarta, Jumat (23/12).

Bambang menjelaskan pembangunan proyek tersebut akan dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama, lanjut dia, perseroan membangun tiga menara perkantoran dilahan seluas 2,2 hektar (ha)  pada 2011-2014. Ia menjelaskan tahap tersebut bernilai Rp 1,4 triliun. Sedangkan saat ini, lanjut dia, perseroan telah menjual satu menara dengan nilai penjualan sebesar Rp 766 miliar atau 44% dari jumlah total unit.  

Sedangkan tahap dua dan tiga, lanjut Bambang, akan dibangun di luas tanas sebesar 3,2 ha. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan tahap kedua terdiri dari tiga menara hunian apartemen. "Sedangkan tahap ketiga diperuntukan membangun satu menara gedung serba guna 72 lantai mencakup perkantoran, hotel bintang lima, dan apartemen. Pembangunan kedua tahap tersebut dimulai setelah tahap pertama selesai," jelas dia. 

Lebih lanjut Bambang memaparkan pada 2012 perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp 433 miliar. Jumlah tersebut, tambah dia, meningkat 184,8% dibandingkan estimasi akhir tahun ini sebesar Rp 152 miliar. Adapun pendapatan, ia optimistis perseroan akan mampu mencatatkan kenaikan sebesar 271,1% menjadi Rp 835 miliar dari estimasi tahun ini Rp 225 miliar. 

“Sedangkan pada 2013, perseroan optimsitis mencatatkan pendapatan Rp 871 miliar dan laba bersih Rp 444 miliar. Peningkatan ini seiring dengan mulai dilakukannya penjualan unit dari menara dua dan tiga pada tahap pertama,” paparnya. 

Sementara itu, Presiden Direktur HD Capital Antony Kristanto, selaku penjamin emisi efek, mengatakan dalam IPO tersebut price earning ratio (PER) sangat murah. Sebab, lanjut dia, berada di sekitar 4,5 kali. Ia juga mengatakan harga IPO sebesar Rp 25o persaham mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebesar 1,09 kali. “Sedangkan untuk porsi alokasi institusi sebesar 90%. Sedangkan sisanya untuk ritel,” tandas dia. (iin)

Kamis, 22 Desember 2011

Trada Maritime Raih Kontrak US$ 200 Juta

JAKARTA – PT Trada Maritime Tbk (TRAM) meraih kontrak baru senilai US$ 200 juta. Kontrak tersebut didapatkan perseroan setelah memenangkan tender sebagai pengangkut transportasi liquefied natural gas (LNG) dari perusahaan patungan antara PT pertamina dan PT PGN, yaitu PT  Nusantara Regas. 

Kontrak yang didapatkan tersebut merupakan pengangkutan LNG pertama di Indonesia setelah menerapkan azas cabotage. Saat ini kami tengah finalisasi kontrak dan diperkirakan akan ditandatangani pada minggu kedua atau ketiga 2012,” Direktur Keuangan Trada Maritime Adrian E Sjamsul di Jakarta, Kamis (22/12). 

Adrian mengatakan kontrak tersebut merupakan long term time charter contract dengan durasi 11 tahun terhitung mulai akhir Januari 2012. Sedangkan rute pengangkutan yang dilakukan dari terminal LNG Bontang menuju terminal regas terapung di Jakarta Utara. Ia menambahkan dalam pengangkutan tersebut perseroan akan menggunakan LNG Aquarius berpkapasitas 126.350 cubic meter (cbm).

Dalam pengangkutan LNG tersebut, Adrian mengatakan perseroan membentuk joint venture (JV) dengan perusahaan perkapalan asal Jepang, Mitsui OSK Lines (MOL). Ia menyebutkan nama perusahaan JV tersebut adalah Hanochem. Ia menjelaskan perseroan memiliki 51% salam dalam JV tersebut. Sedangkan sisanya, tambah dia, dimiliki oleh MOL. Dengan demikian, ia menegaskan penjualan yang didapatkan dari JV ini akan dikonsolidasikan dengan perseroan. 
 
“MOL dipilih sebagai partner kami dalam kontrak tersebut karena mereka memiliki pengalaman dalam bidang LNG. Bahkan, sebanyak 25% pengangakutan LNG dunia dikuasai oleh mereka,” papar Adrian. 

Menurut Adrian, total biaya proyek tersebut menghabiskan dana sebesar US$ 54 juta. Biaya tersebut, lanjut dia, akan dialokasikan untuk 2-3 tahun. Hal tersebut dilakukan untuk pemeliharaan dan peningkatan peforma kapal untuk melayani serta memenuhi selama 11 tahun tersebut. Sedangkan untuk tahun depan, ia memperkirakan akan menghabiskan dana sebesar US$ 30-40 juta. 

Adrian menjelaskan sumber dana tersebut akan berasal dari pinjaman 85% dan sisanya modal kedua pihak sesuai dengan porsi kepemilikan saham. Untuk pinjaman, ia memaparkan perseroan telah mendapatkan fasilitas pinjaman dari financial asing. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama dari financial asing tersebut. “Bunga dari pinjaman ini 5% dengan tenor 8 bulan,” papar dia. 

Dengan kontrak tersebut, lanjut Adrian, perseroan telah mengantongi tiga kontrak baru sepanajng 2011. Sebelumnya, perseroan mendapatkan kontrak dari PT Berau Coal Tbk (BRAU) senilai US$ 6 juta. Serta perpanjangan kontrak FSO dari Medco sebanyak US$ 22 juta. (iin)

Garuda Perkuat Basis Kelas Super Premium Rp 2,2 M

JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) siapp memperkuat basis pelayanan penumpang super premium dengan investasi sebesar Rp 2,2 miliar pada 2012. Rencananya, dana tersebut digunakan untuk pembangunan infrastruktur pendukung, berupa lounge eksklusif dan helipad di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan lounge tersebut akan memiliki luas 200 meter persegi. Dengan nilai investasi rata-rata Rp 100 juta permeter persegi atau total dana yang dibutuhkan Rp 2 miliar. Sedangkan untuk helipad, lanjut dia, diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp 200 juta. Namun, ia enggan untuk menjelaskan sumber dana dari pembangunan tersebut. 

Emirsyah menjelaskan dalam pengembangan pelayanan super premium tersebut perseroan menggandeng PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Hal tersebut dikarenakan BNI memiliki nasabah yang sekelas dengan bisnis perseroan, yaitu Kartu Emerald dan BNI Platinum Card. Kerjasama tersebut, lanjut dia, nantinya juga akan mencangkup program-program khusus lainnya. 

“Selain pengembangan paket wisata, kami juga akan menyiapkan check in counter di menara BNI dan pemberangkatan menuju Bandara Soekarno Hatta dengan menggunakan helicopter. Helicopter tersebut telah dijalin oleh BNI bekerjasama dengan Susi Air,” ungkap Emirsyah di Jakarta, Kamis (22/12). 

Menurut Emirsyah, penguatan basis super premium tersebut dalam rangka memperluas
pangsa pasarnya khususnya para pengguna jasa premium. Sebab, lanjut dia, saat ini jumlah pelanggan premium perseroan telah mencapai 11 ribu. “Dengan potensi jumlah nasabah premium “Emerald” yang mencapai lebih dari 11 ribu orang. Kami optimistis dapat menggaet 6 ribu pemegang kartu Emerald untuk memilih layanan ini.” tambah Emirsyah. (iin)

Megapolitan Bidik Laba Rp 52,6 M

JAKARTA – PT Megapolitan Development Tbk mengincar laba bersih sebesar Rp 52,6 miliar pada 2012 atau meningkat 748,3% dibandingkan estimasi tahun ini Rp 6,2 miliar. Pendapatan diproyeksikan meningkat 234,2% menjadi Rp 350,4 miliar dari Rp 104,7 miliar. 

“Peningkatan kinerja tersebut disebabkan dua proyek kami di Cimandala City (Sentul) dan Urbana Cinere (Depok) yang rencananya dibangun pada tahun ini mengalami pergerseran hingga ke 2012. Alhasil, baru akan dibukukan pada pendapatan tahun ini,” Direktur Keuangan Megapolitan Development Leonardo Hendra Wijaya di sela paparan public di Jakarta, Kamis (22/12). 

Leonardo menjelaskan pergeseran pembangunan terjadi karena perseroan akhirnya mendesain ulang kedua proyek tersebut. Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan karena perseroan ingin melakukan penyempurnaan, efesiensi perencanaan, dan memberikan nilai tambah pada proyek tersebut. Meskipun demikian, ia memastikan nilai dari proyek tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan. Namun, ia tidak menyebutkan nilai dari proyek tersebut. 

Lebih lanjut Leonardo mengatakan selain membangun dua proyek tersebut, perseroan juga akan membangun satu menara lagi di bisnis unit Karawaci (Tangerang). Ia menjelaskan menara tersebut akan dibuat sekelas kondotel. “Minat pembeli di kawasan ini sangat tinggi. Bahkan dari 7222 unit yang tersedia lebih dari 500 unit telah tersewa atau terhuni,” jelas dia. 

Direktur Utama Megapolitan Lora Melani Lowas mengungkapkan perseroan akan meningkatkan porsi recurring income. Untuk itu, lanjut dia, perseroan akan membangun mal, hotel, dan komersial unit pada ketiga proyek tersebut. “Dengan land bank yang kami miliki saat ini dan berbagai strategi pengembangan yang kami jalankan, kami yakin perseroan akan mampu mencapai pertumbuhan pendapatan yang kuat ke depannya,” tuturnya.

Sementara itu, Leonardo menambahkan untuk hotel, perseroan akan menggandeng operator dalam pengelolaan. Saat ini, lanjut dia, perseroan tengah berbicara dengan dua atau tiga operator. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama dari operator tersebut. Ia hanya mengatakan perseroan rencananya akan membangun hotel bintang tiga. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan kebutuhan dan melihat peluang bisnis yang ada pada proyek perseroan tersebut. 

“Pada 2012, diperkirakan sumbangan recurring income akan mencapai Rp50 miliar atau 15% dari total pendapatan perseroan. Sedangkan di 2013, kami targetkan recurring income 30% seiring dengan selesainya pembangunan mal dan hotel di proyek-proyek kami tersebut,” tandas Leonardo. (iin)

Rabu, 21 Desember 2011

Adhi Karya Bidik Laba Bersih Rp 204,6 M

Adhi Karya Bidik Laba Bersih Rp 204,6 M

JAKARTA – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membidik laba bersih sebesar Rp 204,6 miliar. Jumlah tersebut meningkat 11,2% dibandingkan dengan estimasi tahun ini Rp 183,3 miliar. Pendapatan diproyeksikan meningkat 34,4% menjadi Rp 9,41 triliun dari Rp 7 triliun. 

“Kami optimistis akan mencapai target laba tersebut. Sebab, pada tahun depan kami yakin mampu merampungkan semua kontrak baru dan juga carry over pada 2012,” ungkap Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan di sela paparan public di Jakarta, Rabu (21/12).

Kiswodarmawan menjelaskan pada tahun depan perseroan akan memfokuskan pada lima linis bisnis, yaitu infrastruktur, konstruksi, EPC, property, dan real estaste. Untuk itu, menargetkan untuk mencatatkan kontrak sebesar Rp 13,5 triliun. Kontrak tersebut terdiri dari konstruksi senilai Rp 10,4 triliun, EPC senilai Rp 2,7 triliun, properti Rp 3 miliar, dan real estate senilai Rp 1 miliar.  Adapun carry over perseroan pada 2012 mencapai Rp11,5 triliun.

“Selain itu, pata tahun depan perseroan juga akan meningkatkan porsi recurring income. Rencananya, kami akan masuki sector Independent Power Producer (IPP) dan real estate yang dikembangkan di Bekasi,” jelas Kiswodarmawan.   

Tidak hanya itu, lanjut Kiswodarmawan, perseroan juga berancana menambah porsi recurring income di masa depan dengan membangun menara 100 lantai ditujukan untuk perkantoran. Ia memperkirakan nilai proyek tersebut akan menghabiskan dana sebesar Rp 2 triliun. Rencananya, proyek tersebut akan dibangun di kawasan SCBD, Jakarta dengan luas lahan diatas 1,5 hektar. 

Kiswodarmawan menjelaskan tanah tersebut merupakan penyertaan asset pemerintan dalam penawaran umum terbatas rights issue atau disebut dengan inbreng. Ia menambahkan nilai jual objek pajak (NJOP) dari kira-kira sekitar Rp500 miliar. Ia memperkirakan rights issue tersebut akan dilakukan pada semester II 2012. Dengan demikian pembangunan diperkitakan baru akan bisa berjalan pada 2013. 

“Kami ingin menjadikan 100 menara tersebut menjadi iconic building dengan tinggi 1.700 feet. Sebab, nantinya akan menjadi gedung tertinggi ketiga di dunia setelah Burj Dubai di Uni Emirat Arab dan taipe 101 Building di Taiwan,” tegas Kiswodarmawan. 

Lebih lanjut Kiswodarmawan mengatakan apabila rights issue tersebut jadi dilaksanakan, pada 2012 perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 220 miliar. “Namun, jika tidak jadi menggelar aksi korporasi tersebut pada tahun depan, kemungkinan capex kami hanya akan menjadi setenaghnya,” tandas dia. (iin)

Mancing dan Golf Melatih Emosi

Mancing dan Golf Melatih Emosi 

Dibalik kesibukannya mengemban jabatan sebagai Direktur Utama PT Modernland Realty Tbk (MDLN), Edwyn Lim menyempatkan diri menikmati hobinya, yaitu memancing dan golf. Menurutnya, hobi tersebut merupakan ajang melatih emosi. 

 “Bagi saya, memancing dan golf bukan hanya sekedar menjadi ajang rekreasi atau melepas penat. Tapi juga menjadi bagian dari melatih emosi diri. Sebab, keduanya membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri dan mengalahkan ego diri sendiri untuk dapat mendapatkan hasil memuaskan,” ungkap Edwyn kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Edwyn menjelaskan dengan terlatihnya emosi akan mampu membuka cakrawala dan pengendalian diri dalam menghadapi segala tantangan di masa depan. Namun, pria berusia 45 tahun ini mengaku lebih banyak meluangkan waktunya untuk golf. Hal tersebut disebabkan lokasi lapangan golf favoritnya berada di kawasan tempatnya memimpin perusahaan. 

Tak heran apabila setiap Edwyn mengikuti turnamen persahabatan dengan rekan bisnis dan temanya, ia acapkali sukses untuk mendapatkan gelar nearest the pin dan nearest the line. Namun, ungkap dia, berhasilannya menmenangkan gelar tersebut tidak lantas membuatnya berpuas diri. Ia bahkan sering melatih pukulannya dan juga mempelajari teknik baru dalam bermain golf. 

“Hal ini sangat dibutuhkan untuk menjaga handicap saya, yaitu 18. Karena seorong juara dunia sekelas Tiger Woods saja selalu melakukan ini. Jadi buat saya masuk ‘bengkel’ sanagt penting dilakukan,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Bendahara DPH REI - DKI Jakarta. 

Selain itu, lanjut Edwyn, dirinya juga tidak lupa untuk meluangkan waktu bersama dengan keluarganya. Ia bahkan sering mengajak keluarganya untuk menikmati waktu bersama dengan traveling bersama. Ia mengatakan Bali dan Tiongkok selalu menjadi lokasi pilihan utamanya keluarganya dalam menikmati waktu bersama. 

Perjalanan Karir
 
Kepiawaian, konsistensi dan pengalamanya di industri properti selama 15 tahun membawa Edwyn Lim terpilih menjadi Direktur Utama Modernland Realty. Terpilih sebagai pemimpin baru Kota Modern sejak Oktober 2007. Ia bahkan memiliki visi dan misi untuk menjadikan Modernland Realty akan menjadi pengembang yang diperhitungkan. 

Bahkan pada ada 2011, dibawah kepemimpinanya Modernland berencana mengakuisisi sebagai dana akuisisi 100% saham PT Prima Inti Semesta (PIS) dan 99,99% saham PT The New Asia Industrial Estate. Ditambah lagi akuisisi tanah dan bangunan hotel beserta area komersial di Jalan Gajah Mada No. 188. Hal tersebut untuk mendukung ekspansi dan juga misinya menjadikan perseroan yang dipimpinan sebagai pengembang yang diperhitungkan. 

Edwyn memulai karirnya di dunia property pada 1989. Kala itu, ia menjabat sebagai supervisor di PT. Handra Hadi Kreasi yang bergerak dibidang kontraktor umum. Pada 1990 – 1992 ia pun dipercaya menduduki posisi sebagai director di Wicasa Karya Group. Dua tahun berselang, ia pun memilih untuk bergabung di PT Mahakam Indomakmur dan pernah menduduki dua jabatan, yaitu sebagai Project Manager dan Promoted General Manager. Namun, pada 1996, ia pindah ke PT Universal Dwikarya sebagai General Manager. 

Karir Edwyn semakin menanjak setelah ia bergabung di PT Jawa Barat Indah sebagai Vice Chief Executive Officer. Selama 2005 – 2007, ia menjadi Chief Operating Officer di tiga anak usaha Agung Podomoro Group, mulai dari PT Karunia Abadi Sejahtera, PT Cahaya Mitra Sejaterah, PT Adhi Utama Dinamika. (iin)

Modern Internasional Siapkan Capex Rp 250 M

Modern  Internasional Siapkan Capex Rp 250 M

JAKARTA – PT Modern Internasional Tbk (MDRN) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 250 miliar. Dana tersebut akan berasal kas internal dan pinjaman bank. Rencananya, capex dialokasikan untuk membuka bisnis retail 60 outlet 7-Eleven di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). 

Direktur Keuangan Modern Internasional Donny Sutanto menjelaskan porsi pendanaan capex tersebut adalah 20% berasal dari kas internal dan 80% dari pinjaman. Ia menjelaskan saat ini perseroan masih mencari pinjaman tersebut. Menurutnya, perseroan masih memiliki ruang yang besar untuk mendapatkan pinjaman. Mengingat saat ini masih sebesar 0.85 kali.  

Disamping kedua opsi pendanaan tersebut, lanjut Donny, perseroan tengah mengkaji pendanaan dari pasar modal, baik obligasi maupun rights issue. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Sebab, lanjut dia, opsi tersebut tengah dibahas oleh perseroan. Ia hanya mengatakan opsi tersebut diambil untuk mendapatkan pendaaan yang terbaik. Selain itu, tambah dia, aksi korporasi tersebut bisa menjadi peningkatan ekuiti perseroan di masa mendatang. 

“Semoga pada semester I 2012, kami sudah bisa menentukan jadi tidaknya opsi tersebut. peluang kami melakukan kedua aksi korporasi tersebut sangat terbuka. Terlebih saat ini kepemilikan saham perseroan di public masih 25%,” ungkap Donny di sela paparan public di Jakarta, Rabu (21/12).

Donny menambahkan dengan pembukaan gelar tersebut, pada akhir 2012 perseroan akan memiliki gerai 7-eleven sebanyak 117 gerai. Sebab, lanjut dia, pada akhir 2011 perseroan akan memiliki outlet 57 outlet. Ia mengatakan untuk membuka satu outlet dibutuhkan investasi sebesar Rp 3 miliar. Nilai investasi tersebut hampir sama antara baik pembukaan baru maupun konversi dari outlet Fuji Film menjadi 7-Eleven. 

“Sedangkan tahun depan, konversi outlet tersebut akan dilakukan sebanyak 15% dari total pembukaan 60 outlet,” papar Donny.  

Selain untuk ekspansi outlet, lanjut Donny, capex juga dialokasikan untukpembangunan infrastruktur penunjang outlet 7-Eleven. Diantaranya adalah pabrik pembuatan makanan, gudang, dan IT. Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan untuk mempersiapkan pembukaan gerai di tahun-tahun mendatang. “Tidak hanya itu, infrastruktur tersebut ditujukan untuk persiapan perseroan yang akan menawarkan franchise 7-Eleven,” papar Donny. 

Sedangkan untuk kinerja akhir tahun, Donny mengatakn perseroan optimistis akan mencetak laba bersih sebesar Rp 54 miliar. Jumlah tersebut, lanjut dia, meningkat 28,8% dibandingkan laba bersih pada 2010 sebesar Rp 41,9 miliar. Sementara untuk penjualan, ia mengatakan perseroan membidik kenaikan sebesar 30% dibandingkan 2010 sebesar Rp 733 miliar. “Pada 2012, kami optimistis mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 20% dan penjualan 40%,” jelas dia. 

Berdasarkan kuartal III 2011, perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp 657,6 miliar. Jumlah tersebut mengalami pertumbuhan 25,9% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 522,2 miliar. Kontribusi utama dari penjualan bersih tersebut ditopang dari 7-Eleven. Selain itu, perseroan membukukan peningkatan laba bersih sebesar 20% menjadi Rp 36,6 miliar dari Rp 30,5 miliar. (iin)

Selasa, 20 Desember 2011

Lippo Karawaci Bidik Kenaikan Laba 43%

Lippo Karawaci Bidik Kenaikan Laba 43%

JAKARTA – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membidik laba sebesar Rp 1 triliun. Laba tersebut meningkat 43% dibandingkan estimasi laba tahun ini sebesar Rp 705 miliar. Peningkatan tersebut seiring dengan proyeksi perseroan bahwa 2012 merupakan tahun yang kuat. 

Berdasarkan keterangan pers yang diterima Investor Daily, perseroan mengharapkan laba dari kegiatan usaha ordinary diharapkan tumbuh sebesar 17% dari Rp 705 miliar menjadi Rp 826 miliar. Meskipun, pada tahun depan diperkirakan biaya-biaya akan lebih tinggi dengan adanya pembangunan rumah sakit dan mal baru. Tidak hanya itu, perseroan juga mengharapkan laba dari kegiatan usaha extraordinary sebesar Rp185 miliar pada tahun depan. Jumlah tersebut, sebagai hasil dari penjualan mal kepada Mal REIT di Singapura yang terafiliasi dengan LPKR. 

Sedangkan untuk pendapatan, perseroan optimistis akan mampu mencetak peningkatan sebesar 45% dari Rp 4,15 triliun menjadi Rp 6 triliun. Hal tersebut seiring dengan pertumbuhan seluruh divisi usaha LPKR pada 2012. ditambah dengan recurring income yang diperkirakan akan berkontribusi sekitar 50% dari total pendapatan. 

“Saya juga ingin berbagi dengan para pemegang saham bahwa tahun 2012 akan merupakan tahun yang menggembirakan. Tim kami telah menempatkan landasan usaha yang kokoh untuk terus tumbuh di tahun 2012 dan di tahun-tahun selanjutnya,” ungkap Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya.  

Ketut menambahkan perseroan akan terus membangun ditengah momentum penjualan residensial dan tanah industri yang kuat. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga dalam dalam progres untuk meningkatkan bisnis rumah sakit, mal dan asset management. “Kami juga akan mengintensifkan dan mempercepat strategi “asset-light”. Kami untuk menghasilkan tambahan laba extraordinary. Saya sangat gembira dan berharap untuk dapat mendorong lebih jauh strategi pertumbuhan kami untuk mentranformasi LPKR dari US$3 miliar menjadi US$8 miliar grup property,” jelas dia. 
 
Pada kesempatan yang sama, Ketut mengatakan perseroan optimistis pada 2011 akan mampu mencatatkan laba bersih Rp 705 miliar. Jumlah tersebut meningkat 34% dibandingkan laba bersih 2010 sebesar Rp 525 miliar. Sedangkan untuk pendapatan, perseroan optimistis akan mampu mencatatkan kenaikan sebesar 33% dari Rp 3,125 triliun menjadi Rp 4,15 triliun. Optimisme tersebut berdasarkan hasil dari pertumbuhan ekonomi, peningkatan penjualan dari residensial dan township, demikian juga peningkatan pendapatan healthcare dan produktivitas yang lebih tinggi. 

Menurut Ketut, seluruh divisi usaha perseroan diharapkan akan memberikan kinerja yang memuaskan sepanjang 2011. Hal tersebut seiring dengan kinerja pendapatan yang luar biasa dari divisi residential/township dan penjualan tanah industri yang secara khusus memiliki kinerja yang luar biasa tahun ini. Selain itu, lanjut dia, Unit usaha rumah sakit akan terus tumbuh dengan stabil. 

“Saya sangat gembira melaporkan bahwa di tahun 2011 LPKR diharapkan akan mencapai hasil sesuai dengan forecast. Direksi LPKR akan mengumumkan dividen 2011 setelah mendapat persetujuan dari RUPS tahunan, konsisten dengan tujuan kami untuk membagikan dividen secara berkala,” papar dia.

Integrasi Bisnis

Sementara itu, Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada menegaskan integrasi bisnis dari lima divisi usaha Lippo Karawaci menjadikan perseroan sangat unik dibandingkan dengan emiten property lainnya. Sebab, lanjut dia, perseroan mampu memuhi kebutuhan dasar manusia dalam hidup. Untuk itu, lanjut dia, bukanlah hal sulit untuk perseroan merealisasikan target pendapatan dan laba 2012. Kelima divisi usaha tersebut meliputi Residential/Township, Retail Malls, Hospitals, Hotels dan Asset Management. 

Selain itu, lanjut Reza, kelas menengah keatas yang menjadi pangsa pasar perseroan merupakan alasan kuat untuk mendukung pertumbuhan laba dan pendapatan 2012. Sebab, tambah dia, kelas tersebut akan semakin bertumbuh besar seiring dengan meningkatkan perekonomian Indonesia pada tahun depan. “Ditambah lagi dengan kontribusi pendapatan dari recurring income yang semakin tahun akan mengalami peningkatan harga sewa. Hal ini dapat menjadi pertumbuhan yang menjanjikan di tahun mendatang,” jelas dia. 

Namun, Reza menilai harga saham LPKR masih belum mencerminkan fundamental perseroan yang memiliki bisnis integrasi. Pada perdagangan Selasa (20/12), LPKR diperdagangakan stagnan di level Rp 640. Ia mengatakan hal ini sangat lazim terjadi pada tipe saham property lebih bersifat long term. Hal tersbeut seiring dengan proyek lamanya pembangunan proyek yang digarap. “Dalam waktu enam bulan, diprediksi harga saham dapat bergerak di level Rp 700-750,” kata dia. 

Analis Waterfront Securities Oktavianus Marbun mengatakan perseroan akan mampu mencapai target tersebut. Sebab, lanjut dia, tahun depan diperkirakan aturan pemerintah mengenai kepemilikan asing terhadap property akan disahkan. Dengan adanya aturan tersebut, ia memperkirakan akan mampu mendongkrak pangsa pasar penjualan perseroan akan semakin luas. Terlebih dengan kondisi perekonomian Indonesia yang semakin menjanjikan. Seiring dengan investment grade dari Ficth yang diterima Indonesia. “Kemungkinan Indonesia akan mendapatkan rating yang sama dari Moody’s dan S&P,” tegas dia. 

Sedangkan secara teknikal, Oktavianus memperkirakan pergerakan saham LPKR akan menyentuh level Rp 650-680 dalam jangka pendek. Namun, lanjut dia,dalam tujuh bulan mendatang diperkirakan akan menyentuh level Rp 750. “Pada saat itu, yang akan menjadi katalis adalah laporan kinerja mereka selama 2011,” jelas  Oktavianus. 

Sedangkan analis Milenium Danatama Securities Desmon Silitonga mengatakan perseroan akan mampu merealisasikan target penjualan dan laba bersih tersebut. Hal tersebut seiring dengan pencapaian laba perseroan hingga kuartal III mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 30%. Hal tersbeut, lanjut dia, masih di driver oleh marketing sales dari residensial yang menngalami peningkatan harga akibat masih tingginya permintaan. “Selain itu, kontribusi dari rumah sakit juga turut berdampak pada pendapatan mereka,” lanjut dia.  

Desmon menambahkan 2012 akan menjadi semakiin menjanjikan bagi Lippo Karawaci karena ekspansi yang dilakukan perseroan, khsusunya akusisi rumah sakit di beberapa daerah dan kondominium. Untuk itu, Lippo Karawaci lebih cocok untuk investasi menengah dan panjang. “Tahun depan LPKR masih berkisar di level Rp 800-1.000. Dengan catatan, mereka bisa merealisasikan beberapa ekspansi usaha khususnya pembangunan residensial dan rumah sakit,” tandas dia. (iin)

Adaro Akusisi Perusahaan Geothermal

Adaro Akusisi Perusahaan Geothermal 

JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melalui anak usahanya, PT Adaro Power,  mengakuisisi perusahaan pembangkit listrik berbasis geothermal, PT Sejahtera Alam Energy (SAE). Akuisisi saham tersebur dilakukan dengan membeli saham milik PT Trinergy yang merupakan induk usaha dari SAE.

Pendiri PT Trinergy Herman Afif Kusumo mengatakan dalam akusisi tersebut Adaro akan menjadi pemegang saham domina. Namun, ia enggan untuk menyebutkan lebih lanjut posrdi tersebut. Ia hanya mengatakan masuknya Adaro dalam SAE akan mengamankan permodalan dalam menjalankan proyek pembangkit listrik panas bumi (PLTP/geothermal).

Berdasarkan catatan Investor Daily, SAE akan mengembangkan geothermal dengan kapasitas 220 MW di Baturaden, Jawa Tengah. Pengembangan tersebut akan dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, Trinergy menargetkan pembangkit dengan kapasitas 110 MW pada 2017, disusul 70 MW pada 2019 dan tahal ketiga sebesar 40 MW pada 2021. Investasi tersebut diperkirakan membutuhkan sana sekitar US$ 1 miliar. 

Namun, Herman menolak untuk mengungkapkan nilai dari akuisisi tersebut. “Saat ini kami masih dalam tahap negosiasi. Yang jelas Adaro akan menjadi dominant. Dengan adanya Adaro dalam SAE, akan membuat financing proyek geothermal lancer. Mengingat Adaro telah menyanggupi, istilahnya menjadi penyandang dana,” ungkap Herman kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (20/12). 

Sedanngkan iklan di surat kabar yang terbit pada 20 Desember 2011, menyebutkan pengambilalihan direncakanan terjadi dalam waktu 45 hari kalender terhitung sejak pengumuman iklan tersebut. 

Sebelumnya, perseroan melalui anak usahanya, PT Alam Tri Abadi telah menandatangi akta jual beli dan pemindahan hak atas 3% saham PT Servo Meda Sejahtera yang dimiliki PT Servo Infrastruktur. Nilai transaksi mencapai Rp 200 miliar. Selain itu, perseroan melakukan joint venture dengan PT Bukit Enin Energi untuk produksi batu bara di Sumatera Selatan.

Agustus lalu, perseroan mengakuisisi mengakuisisi 75% saham PT Mustika Indah Permai (MIP) dengan harga US$ 222,5 juta untuk proyek batu bara  greenfield di Sumatera Selatan. Sejumlah fasilitas pinjaman revolving dipakai untuk membiayai transaksi ini, sehingga meningkatkan rasio hutang bersih terhadap ekuitas menjadi 0,61 kali dan rasio hutang bersih terhadap EBITDA menjadi 1,01 kali.

Hingga akhir September 2011, Adaro membukan laba bersih sebesar US$ 376 juta atau naik 96,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan perseroan didukung oleh naiknya pendapatan bersih perseroan yang naik 48% menjadi US$ 2,9 miliar. Volume produksi perseroan  dan penjualan perseroan sepanjang kuartal III-2011 masing-masing meningkat 10,8% dan 18,4% menjadi 35,28 juta ton 38,33 juta ton. (iin)

Senin, 19 Desember 2011

Exploitasi Energi Bidik Pendapatan Rp 1,2 T

JAKARTA – PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) membidik pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun pada 2012. Pendapatan tersebut meningkat 20% dibandingkan estimasi akhir tahun ini sebesar Rp 1 triliun. Peningkatan tersebut ditopang lima kontrak baru dengan PLN dan meningkatkan porsi ekspor pada tahun depan. 

Direktur Exploitasi Energi Jansen Surbakti menjelaskan lima kontrak dengan PLN tersebut dapat mendongkak pendapatan karena pada tahun depan perseroan akan secara penuh menyuplai batubara sebanyak 2,9 juta ton. Selain itu, lanjut dia, perseroan juga akan meningkatkan penjualan ekspor. Untuk itu, ia memperkirakan tahun depan, penjualan ekspor akan menyumbang sebanyak 10%. 

“Hal tersebut ditambah lagi dengan pendapatan sebesar Rp 50 miliar dari beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan BUN, Kalimantan Tengah (Kalteng),” ungkap Jansen kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (19/12). 

Jansen memperkirakan perseroan akan mampu mencetak laba bersih sebesar Rp 120-150 miliar pada tahun depan. Seperti halnya pendapatan, lanjut dia, laba bersih 2012 mengalami peningkatan sebesar 20-25% dibandingkan estimasi tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp 100 miliar. 

Berdasarkan laporan keuangan Kuartal III 2011, perseroan mampu mencacatatkan kenaiakan laba bersih pertumbuhan sebesar 39,8% menjadi Rp59,32 milyar atau setara dengan laba bersih Rp13,97 per saham. Kenaikan laba bersih tersebut seiring dengan meningkatnya penjualan sebesar 43,3% menjadi Rp747,85 milyar dari sebelumnya Rp521,79 milyar. 

Pada kesempatan yang sama, Jansen menjelaskan tahun depan perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 250 miliar. Dana tersebut, lanjut dia, rencananya akman berasal dari kas internal dan pinjaman bank dengan rasio 30:70. Ia menjelaskan capex tersebut digunakan untuk melanjutkan pembangunan PLTU Rengat dan Tebilahan di Riau. (iin)

Capitalinc Alokasikan capex US$ 25 Juta

JAKARTA – PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 25 juta pada 2012. Rencananya, dana tersebut dialokasikan untuk eksplorasi dan eksplorasi enam blok minyak dan gas yang dimiliki perseroan. Capex tersebut sepenuhnya akan berasal dari pinjaman bank.  

“Saat ini kami tengah melakukan pembicaraan dengan pihak Bank, baik dalam maupun luar negeri. Diperkirakan pinjaman akan didapatkan pada semester I 2011,” ungkap Direktur Capitalinc Investment Budi Prihantoro di sela paparan public di Jakarta, Senin (19/12). 

Budi menjelaskan pada 2012 perseroan akan mulai eksploitasi dua blok minyak, yaitu Blok Tonga dan Blok Ibul. Untuk Blok Tonga, lanjut dia, diharapkan akan mulai memproduksi rata-rata 1.200 Barel Oil Per Day (BOPD) pada 2012. Sedangkan blok Ibul, ia memperkirakan akan mampu produksi 330 BOPD. “Dengan demikian tahun depan kami akan mampu memproduksi minyak sebanyak 1530 BOPD,” jelas dia. 

Lebih lanjut Budi menjelaskan pada tahun depan perseroan akan melakukan eksplorasi pada empat blok, masing-masing dua blok minyak (Air Komering dan Seinangka Senipah) dan dua blok gas (East Kangean dan Suci). Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan diperolehnya perpanjangan jangka waktu eksplorasi antara dua hingga empat tahun dari BP Migas. 

Namun, Budi menegaskan pada tahun depan perseroan masih akan focus pada penggarapan di bidang minyak. Sedangkan untuk sector gas, ia memperkirakan baru akan dilaksanakan pada dua hingga tiga tahun mendatang. Hal tersebut seiring dengan strategi perseroan membagi penggarapan sector migas menjadi dua tahap.  “Pertama, kami lebih mendahulukan focus pada sector minyak. Sedangkan untuk sector gas kami lebih menjadikan sebagai bisnis sector panjang. Mengingat sector gas membutuhkan dana besar,” papar dia. 

Pada kesempatan yang sama, Investor Relation Capitalinc Investment Budy Powito menjelaskan pada tahun depan perseroan membidik pendapatan sebesar Rp 63 miliar. Jumlah tersebut meningkat 108,1% dibandingkan estimasi pendapatan pada tahun ini sebesar Rp 30,27 miliar. Menurut Budy, kenaiakan pendapatan tersebut seiring dengan mulai berproduksinya dua blok minyak milik perseroan. 

“Dengan pendapatan Rp 63 miliar, diharapkan margin laba usaha kami akan tercatat sebanyak 20% atau sebesar Rp 12-13 miliar pada tahun depan,” tegas Budy. 

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, perseroan mampii menbukukan pendapatan sebesar Rp 22,7 miliar. Jumlah tersebut meningkat 26,1% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 18 miliar. Pada periode yang sama, perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 7,1 miliar. Angka tersebut terjadi sebagai akibat adanya biaya operasional dari perusahaan migas yang diakusisi perseroan pada September 2010. (iin)

Minggu, 18 Desember 2011

Bakrie & Brothers Optimistis Cetak Pendapatan Rp 13 T

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) optimistis cetak pendapatan sebesar Rp 13 triliun pada akhir 2011. Walau pada tahun ini perseroan tidak lagi mengkonsolidasikan pendapatan dari PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Hal tersebut karena pendapatan perseroan ditopang oleh PT Bakrie Energy International.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan jumlah tersebut sama dengan perolehan pada 2010. Menurut dia, Bakrie Energy International mampu menutupi pendapatan yang dahulu disumbangkan oleh Bakrie Sumatera. “Soalnya, pendapatan dari Bakrie Energy melonjak tinggi karena peningkatan penjualan diesel. Seiring dengan bertambahnya jumlah klien mereka,” ungkap Eddy sela paparan public di Jakarta, belum lama ini. 

Eddy menambahkan tingginya pendapatan yang disumbangkan oleh anak usaha yang bergerak dibidang trading tersebut, perseroan berencana untuk diversifikasi usaha ke bidang logistic. Hal tersbeut dilakukan untuk meningkatkan margin yang dicatatkan Bakrie Energy, mengingat selama ini margin yang diperoleh dari uisaha trading sangat tipis. Ia menjelaskan logistic tersebut terkait dengan pengapalan minyak dan gas (gas), seperti pengapalan dan pembangunan tangki di Kalimantan Selatan (Kalsel). 

“Untuk diversifikasi tersebut, diperkirakan akan membutuhkan dana sebesar US$ 100 juta,” tegas Eddy.  

Menurut Eddy, dana tersebut akan berasal dari kas internal dan menggandeng mitra yang bergerak di bidang logistic. Namun, lanjut dia, dalam hal ini perseroan akan tetap memegang saham mayoritas, yaitu 70-80%. Ia menjelaskan selain pendanaan, mitra dibutuhkan karena mereka memiliki teknologi dan kemampuan untuk mengoperasikan. Saat ini, tamabh dia, pihaknya tengah perbicara dengan investor asal Asia dan Eropa. “Rencananya, kami akan melakukan diversifikasi ini pada 2012,” papar dia. 

Sementara itu, Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur menargetkan pertumbuhan pendapatan mencapai 20%-25% pada 2012. Hal itu juga didukung dari optimisme perseroan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6,5% pada 2012. ia menjelaskan pertumbuhan tersebut sama dengan kondisi perseroan ketika sebelum 2008. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan optimistis mampu membagikan dividen dengan rasio sebesar 20%-25% pada 2012. 

“Dengan disetujuinya kuasi reorganisasi, maka kami bisa membagikan dividen. Kita akan alokasikan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham,” ucap Bobby. 

Berdasarkan laporan keuangan Semester I 2011, perseroan mencatatkan laba bersih Rp 45,5 miliar. Jumlah tersebut meningkat  126% dibandingkan periode sama pada tahun lalu yang masih mencatatkan rugi sebesar Rp 171,5 miliar. Pada periode yang sama, pendapatan perseroan mengalami penurunan sebesar 42% dari Rp 508,8 miliar menjadi Rp 296,7 miliar. Penurunan tersebut terjadi karena pada tahun ini perseroan sudah tuidak mengkonsolidasikan lagi pendapatan dari Bakrie Sumatera. (iin)

BNBR Jual Saham Tiga Anak Usaha Rp 3,1 T

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan menjual tiga anak usaha non inti dan inti perseroan senilai Rp 2,6-3,1 triliun pada 2012. Penjualan tersebut akan dilakukan dengan dua mekanisme, yaitu penjualan kepada investor strategis dan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Ketiganya adalah PT Bakrie Pipe Industries, PT Bakrie Tosan Jaya, dan PT Bakrie Building Industries. 

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan untuk penjualan Bakrie Pipe dilakukan kepada investor strategis. Diperkirakan, lanjut dia, penjualan tersebut diperkirakan mencapai US$ 75 juta atau setara Rp 675 miliar. Saat ini, lanjut dia, penjualan tersebut masih tahap negosiasi dengan beberapa investor dari Korea Selatan, India, Amerika latin, dan Eropa. Ia memperkirakan kemungkinana akan menjual mayoritas saham di Bakrie Pipe. 

“Jika merujuk penjualan saham non inti sebelumnya, PT Seamless Pipe Indonesia Jaya (SPIJ), sebesar 90% saham, mungkin sja penjualan dengan jumlah tersebut akan terjadi kembali di Bakrie Pipe,” ungkap Eddy di sela paparan public di Jakarta, Jumat (16/12). 

Sedangkan untuk Bakrie Tosan Jaya dan Bakrie Building, Eddy memaparkan akan dilakukan melalui IPO. Hal tersebut dilakukan karena keduanya merupakan asset inti perseroan yang memiliki kinerja paling baik. Bahkan, lanjut dia, Bakrie Tosan Jaya memiliki prospek pertumbuhan yang sangat positif di masa depan. Sebab, perusahaan tersebut memproduksi barang-barang kendaraan otomotif khusus niaga dan memiliki net margin hingga diatas 15%. 

“Hal serupa juga terjadi dengan Bakrie Building. Untuk itu, idealnya masing-masing bisa meraup dana masyarakat senilai Rp 1-1,5 triliun,” tambah Eddy. 

Namun, lanjut Eddy, kedua perusahaan tersebut diwajibkan untuk meningkatkan market cap sebelum IPO. Sebab, saat ini market cap kedua perusahaan tersebut masih sangat kecil dibandingkan dengan anak usaha Bakrie & Brothers yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia. Ia mencontohkan Bakrie Tosan yang diperkirakan market cap sebesar Rp 1,6-1,8 triliun. Menurut Eddy, keduanya akan meningkatkan market cap dengan cara akuisisi perusahaan sejenis. 

“Saya optimistis keduanya akan mampu melakukan peningkatan market cap. Mengingat keduanya memiliki kas dan akses ke perbankan yang kuat. Jadi tidak masalah dengan pendanaan mereka,” papar Eddy. 

Utang Rp 3 T

Pada kesempatan yang sama, Eddy menjelaskan dana hasil penjualan asset tersebut akan digunakan untuk mengurangi utang. Ia memperkirakan dengan penjualan tersebut perseroan dapat menekan utang menjadi Rp 3 triliun pada akhir 2012. Sedangkan pada akhir 2011, diperkirakan posisi utang perseroan sebesar Rp 4 triliun. Menurutnya, dengan sisa utang tersebut akan membuat posisi utang perseroan ideal. 

Selain pelunasan utang, lanjut Eddy, perseroan juga akan melakukan penerbitan obligasi sebesar Rp 1 triliun pada kuartal I 2011. Dana tersebut, lanjut dia, akan digunakan untuk membayar repurchase agreement (repo) Rp 320 miliar. Ditambah, pinjaman jangka pendek yang akan jatuh tempo sebesar US$ 60 juta. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan melakukan refinancing utang dengan kreditur lama mereka, yaitu Credit Suisse (CS). Ia menyebutkan jumlah refinancing tersebut sebesar US$ 220 juta yang akan jatuh tempo pada Maret 2013. 

“Jumlah tersebut merupakan sisa utang kami kepada CS ,” pungkas Eddy. (iin)