Minggu, 04 Desember 2011

Harga IPO Erajaya Rp 1.000 Per Saham

JAKARTA – PT Erajaya Swasembada Tbk menentukan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Rp 1.000. Penetapan tersebut didapatkan setelah perseroan menjalani penawaran umum awal dan road show di beberapa kota di dunia, seperti Singapura, Hong Kong, London, New York, dan Boston. 

Penetapan harga tersebut mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 1,5 kali. Dengan penetapan harga tersebut, perseroan mengubah porsi IPO dari 40% menjadi hanya 31% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh senilai Rp 920 miliar. PT Buana Capital, Credit Suisse dan JP Morgan sebagai penjamin pelaksana emisi efek. 

Dana IPO tersebut akan digunakan 42% dana raihan IPO tersebut akan digunakan untuk membayar akusisi TAM, 16% pengembangan jaringan distribusi dan ritel Erafone, dan 42% untuk modal kerja. Rencananya, perseoan akan menjalami masa penawaran awal (bookbuilding) pada 16-29 November 2011, masa penawaran 8-9 Desember 2011, dan pencatatan pada Bursa Efek Indonesia pada 14 Desember mendatang.  

Direktur Utama Erajaya Swasembada Jaya Tbk Budiarto Halim mengatakan harga tersebut merupakan harga terendah yang ditawarkan selama penawaran umum dan roadshow. Meski ditentukan di harga terendah, lanjut dia, bukan berarti sepi peminat. Sebab, di harga tersebut lebih banyak diminati oleh investor berkualitas yang merupakan institusi besar. Hal tersebut berdasarkan besarnya potensi penetrasi ponsel di Indonesia seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah.

“Kami ingin mereka bisa masuk menjadi pemilik saham Erajaya, akhirnya kami memutuskan untuk menetapkan harga Rp 1.000 untuk IPO,” ungkap Budiarto Halim kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (4/12). 

Dengan pertimbangan tersebut, Budiarto menjelaskan perseroan akhirnya memutuskan untuk memperkecil porsi saham yang dilepas. Disamping itu, lanjut dia, kondisi pasar saat ini juga masih belum memungkinkan untuk perseroan melepas saham sebanyak 40%. Mengingat, saat ini investor masih bersikap wait and see terhadap krisisi Eropa. Ia menambahkan hal tersebut ditambah lagi degan jumlah dana hasil IPO tersebut dianggap telah memenuhi kebutuhan perseroan. 

“Mengingat kami pun telah memiliki komitmen fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 800 miliar. Rencananya, fasilitas ini akan kami tandatangani pada Selasa (6/12),” papar Budiarto. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar