JAKARTA - PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA) siapp investasi sebesar 0Rp 4,8 triliun hingga 2017. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan The City Center Batavia di Jakarta.
Direktur Keuangan Greenwood Sejahtera Bambang Dwi Yanto mengatakan dana tersebut akan berasal dari hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO)
saham sebesar Rp 400 miliar. Ditambah fasilitas pinjaman bank yang belum digunakan dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebesar Rp 230 miliar, serta penjualan unit dari proyek tersebut. “Ada kemungkinan kami akan menambah pinjaman dari bank CIMB Niaga," ungkap Bambang di Jakarta, Jumat (23/12).
Bambang menjelaskan pembangunan proyek tersebut akan dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama, lanjut dia, perseroan membangun tiga menara perkantoran dilahan seluas 2,2 hektar (ha) pada 2011-2014. Ia menjelaskan tahap tersebut bernilai Rp 1,4 triliun. Sedangkan saat ini, lanjut dia, perseroan telah menjual satu menara dengan nilai penjualan sebesar Rp 766 miliar atau 44% dari jumlah total unit.
Sedangkan tahap dua dan tiga, lanjut Bambang, akan dibangun di luas tanas sebesar 3,2 ha. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan tahap kedua terdiri dari tiga menara hunian apartemen. "Sedangkan tahap ketiga diperuntukan membangun satu menara gedung serba guna 72 lantai mencakup perkantoran, hotel bintang lima, dan apartemen. Pembangunan kedua tahap tersebut dimulai setelah tahap pertama selesai," jelas dia.
Lebih lanjut Bambang memaparkan pada 2012 perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp 433 miliar. Jumlah tersebut, tambah dia, meningkat 184,8% dibandingkan estimasi akhir tahun ini sebesar Rp 152 miliar. Adapun pendapatan, ia optimistis perseroan akan mampu mencatatkan kenaikan sebesar 271,1% menjadi Rp 835 miliar dari estimasi tahun ini Rp 225 miliar.
“Sedangkan pada 2013, perseroan optimsitis mencatatkan pendapatan Rp 871 miliar dan laba bersih Rp 444 miliar. Peningkatan ini seiring dengan mulai dilakukannya penjualan unit dari menara dua dan tiga pada tahap pertama,” paparnya.
Sementara itu, Presiden Direktur HD Capital Antony Kristanto, selaku penjamin emisi efek, mengatakan dalam IPO tersebut price earning ratio (PER) sangat murah. Sebab, lanjut dia, berada di sekitar 4,5 kali. Ia juga mengatakan harga IPO sebesar Rp 25o persaham mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebesar 1,09 kali. “Sedangkan untuk porsi alokasi institusi sebesar 90%. Sedangkan sisanya untuk ritel,” tandas dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar