JAKARTA - PT Perdana Gapura Prima Tbk (GPRA) menunda pembagian saham bonus pada akhir 2011. Penundaan tersebut dilakukan karena harga saham perseoan tidak memenuhi ketentuan Bappepam dalam pembagian saham bonus, yaitu diatas Rp 100 per saham.
"Kami menunda pembagian saham bonus, karena secara teoritis hal tersebut baru akan dilakukan ketika harga saham mencapai Rp 100. Jadi kami masih harus menunggu harga saham memenuhi kriteria tersebut," ungkap Presiden Direktur Perdana Gapura Prima Rudy Margono kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (30/11).
Rudy enggan untuk menyebutkan tanggal pasti untuk membagikan saham bonus tersebut. Ia hanya mengatakan kemungkinan akan dilakukan ketika harga saham telah menyentuh level Rp 200 persaham. Menurutnya, pembagian saham bonus dilakukan karena dalam neraca keuangan perseroan terdapat laba dari penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham yang dilakukan pada 2007.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Perdana Gapura Prima Rosihan Saad pernah mengatakan perseroan akan membagikan saham bonus pada Desember 2011. Rencananya, skema pembagian saham tersebut adalah 2:1 atau setiap dua pemegang saham lama akan mendapatkan satu saham baru.
Kala itu, lanjut Rosihan, pembagian saham bonus tersebut merupakan bagian dari pemanis untuk para pemegang saham. Selain itu, tambahnya, dilakukan agar pergerakan saham bisa lebih lukuid dibandingkan sebelumnya.
Pada kesempatan yang sama, Rosihan mengatakan perseroan akan menggarap 3-4 projek baru yang diperkirakan menelan dana besar pada 2012. Namun, ia enggan untuk menjelaskan hal tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan tengah mematangkan rencana tersebut. "Kemungkinan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun depan tidak akan sebesar 2011 atau dibawah Rp 400 miliar," tandas dia.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, perseroan mencatat laba bersih Rp 16.86 miliar, turun 20,39% dari periode yang sama taahun lalu Rp 21,18 miliar. Laba bersih per saham juga turun dari Rp 6,6 per lembar menjadi Rp 5,26 per lembar.
Turunnya kinerja perseroan disebabkan oleh melemahnya pendapatan usaha perusahaan properti ini dari Rp 159,06 miliar menjadi Rp 151,31 miliar. Laba kotor memang menunjukkan pertumbuhan, meskipun tipis daro Rp 74,44 miliar menjadi Rp 78,88 miliar. Beban operasi yang membengkak, menjadikan laba sebelum pajak perseroan turun Rp 2,53 miliar dari Rp 22,85 miliar menjadi Rp 20,32 miliar. Hingga 30 Juni total aset perseroan mencapai Rp 1,24 triliun, naik dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,18 triliun, sementara kewajiban GPRA naik dari Rp 575,47 miliar menjadi Sp 621,18 miliar. (Iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar