JAKARTA - PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk menentukan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Rp 310 per saham. Sebelumnya, saham TiPhone ditawarkan pada kisaran harga Rp 250-350 per saham.
Direktur Sinarmas Securities, selaku penjamin emisi, Andreas S Tjendana menjelaskan harga tersebut mencerminkan tingkat rasio harga saham terhadap laba bersih perseroan (price to earnings ratio/ PER) sebesar 7 kali. “Dengan harga tersebut mengalami kelebihan permintaan (oversubscribes) sebanyak 6 kali. Hal tersebut mencerminkan minat investor sangat bagus terhadap saham tersebut,” ungkap Andreas kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (27/12).
Andreas menambahkan, penentuan harga tersebut sesuai dengan permintaan pasar selama masa penawaran awal (book building) pada 15-21 Desember 2011. Ia pun menjelaskan institusi asing banyak yang berminat untuk memikiki saham TiPhone selama masa bookbuilding. Namun, ia tidak menyebutkan lebih lanjut mengenai porsi kepemilikan institusi asing tersebut.
Lebih lanjut Andreas menambahkan dalam IPO tersebut perseroan memperkecil porsi saham yang dilepas dari 40,08% menjadi 25% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh senilai 6.675.000.000. Dengan demikian, saham yang dilepas dalam IPO tersebut mencapai 1.668.750.000 saham. Sedangkan dana yang diraup akan menjadi sekitar Rp 517,3 miliar. Menurutnya, pengurangan porsi IPO tersebut dilakukan karena melihat situasi ekonomi saat ini masih belum bagus.
Meskipun demikian, Andreas menegaskan perseroan akan tetap menjalankan rencana penawaran umum (pooling) dan pencatatan saahm seperti yang dijadwalkan sebelumnya. Ia mengatakan pooling akan dilakukan pada 3-5 Januari 2012. Sedangkan pencatatan akan dilakukan pada 12 Januari 2012.
Dalam IPO tersebut, perseroan juga tetap menawarkan waran seri I sebesar 1,33 miliar waran. Setiap pemegang dua saham baru berhak memperoleh satu waran. Waran yang diterbitkan memiliki tenor waktu lima tahun. Nilai nominal masing-masaing saham dan waran sebesar Rp100.
Sebelumnya, Komisaris Utama Hengky Setiawan menjelaskan 40% dana raihan IPO tersebut akan digunakan untuk melunasi seluruh utang anak usaha, PT Telesindo Shop kepada PT Bank DBS Indonesia sebesar Rp 360 miliar. Ia juga menjelaskan 28% perluasan usaha perseroan dan anak usaha. Sedangkan sisanya, tambah dia, akan digunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex).
Hengky menjelaskan dengan capex tersebut perseroan akan membangun jaringan distribusi menjadi 250 ribu reseller dari 125 ribu reseller pada saat ini. Ditambah membangun jaringan service center menjadi 130 kota dari 25 kota yang ada saat ini. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengembangkan jumlah gerai Telesindo Shop dari 200 toko menjadi 350 toko pada tahun depan. “Serta investasi IT untuk pengontrolan dan distribusi produk lebih luas lagi,” tambah dia.
Lebih lanjut Hengky menjelaskan perseroan optimistis pendapatan tahun depan akan mencapai Rp 8 triliun. Jumlah tersebut meningkat 21,2% dibandingkan dengan estimasi pendapatan tahun ini sebesar Rp 6,6 triliun. Sedangkan untuk laba bersih, lanjut dia, perseroan optimistis akan akan mencatatkan peningkatan 29,4% dari estimasi tahun ini sebesar Rp 170 miliar menjadi Rp 220 miliar.
Dengan demikian, lanjut Hengky, perseroan optimistis akan mampu membayarkan dividen tunai kepada pe,egang saham sekurang-kurangnya 1 kali dalam setahun. “Sebanyak-banyaknya 25% dari laba bersih setelah pajak pada tahuin buku bersangkutan,” tambah dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar