JAKARTA - Dua bursa berjangka Indonesia, yaitu PT Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange/JFX) dan Indonesia Comodity & Derivatives Exchange (ICDX). JFX meluncurkan kontrak kakao dengan simbol CCD dan setiap 1 lot bernilai 5 metrik ton. ICDX meluncurkan kontrak timah
Direktur JFX Binhar Sakti Wibowo menjelaskan bulan kontrak perdangana kakao ini adlah Maret, Mei, Juli, September, dan Desember. Sedangkan mutu biji kakao yang diperdagangkan adalah kakao fermentasi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). "Untuk tempat penyerahan gudang penyimpanan terdaftar di Makassar, Palu, dan Lampung. Kedepan, akan kami kembangkan lagi untuk gudang penyimpanan ini," ungkap dia di Jakarta, Kamis (15/12).
Binhar menjelaskan pihaknya mengeluarkan kontrak berjangka kakao dalam rangka mengantisipasi kebangkitan industri kakao dan cokelat nasional yang semakin berkembang. Selain itu, lanjut dia, juga bertujuan untuk pembentukan harga (price discovery) dan memberikan fasilitas lindung nilai (hedging) kepada pelaku usaha industri kakao dan cokelat nasional. Mengingat Indonesia merupakan produsen kakao nomor tiga besar dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.
Tidak hanya itu, lanjut Binhar, kontrak kakao juga akan membantu pemerintah dalam meningkatkan mutu biji kakao nasional. Sebab, biji kakao yang diperdagangkan di JFX adalah jenis fermented. Dengan demikian, pihaknya mengharapkan pengusaha kakao nasional dapat meningkatkan kualitas biji kakaonya mengingat saat ini 90% masih berjenis unfermented.
Lebih lanjut Bihar mengatakan peluang perdagangan kontrak kakao sangat besar. Sebab, lanjut dia, selama ini perdangan kontrak kakao di bursa berjangka di New York dan London volume transaksi kontrak tersebut sangat tinggi. "Kami mencoba untuk menarik peluang ini. Untuk itu, kami optimistis perdagangan kontrak kakao akan mampu menembus 1000 lot dalam satu bulan mendatang. Terlebih kami optimistis harga kami bisa dikomparasi dengan perdagangan kontrak sejenis di bursa berjangka di London dan New York," papar dia.
Sementara itu, Direktur JFX Roy Sambel mengatakan selain kontrak kakao JFX akan memperdagangkan kontrak batubara dan kopi pada tahun depan. Keduanya, lanjut Bihar, saat ini masih dalam kajian dan pengembangan. Ia menjelaskan pengembangan produk JFX ini dalam rangka membantu perintah agar Indonesia dapat menjadi acuan harga komoditi primier dunia yang produksinya memang banyak berasal dari Indonesia.
"Dengan adanya produk tersebut, tahun depan kami optimistis total transaksi perdagangan kami akan tumbuh seperti 2011. Dimana pada tahun ini, total transaksi diperkirakan naik lima kali lipat dibandingkan 2010," ujar Roy.
Kontrak Timah
Pada kesempatan berbeda, Direktur Utama ICDX Megain Widjaja mengatakan transaksi perdana kontrak timas dengan kode INATIN tersebut akan dilakukan pada 12 Januari 2012. Ia menjelaskan kontrak tersebut diperdagangkan berbasis US Dollar dan 1 lot kontrak setara dengan 5 metrik ton berkelipatan sebesar US$ 5 per ton. Dalam perdagangan tersebut, ia menambahkan ICDX telah menjalin kerjasama strategis dengan PT Banda Graha Reksa (BGR) selaku gudang menyimpan timah.
Menurutnya, kerjasama ini merupakan salah satu kunci keberhasilan karena BGR memiliki peran yang penting sebagai tempat penyelesaian penyerahan fisik. Selain itu, lanjut dia, BGR akan bekerjasama dengan penguji mutu independen untuk memastikan kualitas timah yang diserahkan agar sesuai dengan spesifikasi kontrak yang sudah diterbitkan oleh ICDX dan komite Timah. "Komite timah diketuai oleh Direktur Utama PT Timah Tbk Wahid Usman. Sedangkan PT Identrust Security International ditunjuk sebagai lembaga kliring," jelas Megain. (Iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar