Selasa, 27 Desember 2011

Harga SUN Bergerak Sideways

JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi naik pada pekan ini. Hal tersebur seiring dengan sentiment positif dari data ekonomi yang dikeluarkan Amerika Serikat (AS). Sentimen tersebut diperkirakan baru akan menggerakan pasar pada awal pekan ini. Hal tersebut membuat imbas hasil (yield) obligasi semua tenor akan berpotensi hanya turun 5-10 basis poin (bps).

Namun, sentiment positif tersebut diperkirakan tidak akan memberikan pengaruh banyak pada pergerakan harga di pekan ini. Alhasil, pergerakan harga obligasi hanya akan sangat terbatas. Sebab, lanjut dia, seiring dengan sepinya perdagangan pada pekan ini. Menyusul dengan adanya libur Natal dan tahun baru 2012. Bahkan, dalam negeri tidak ada data ekonomi yang akan dirilis pada pekan ini. Disisi lain, kondisi tersebut hanya akan membuat pergerakan harga SUN sideways. 

Untuk itu, investor disarankan untuk tetap wait and see di sepanjang pekan ini. Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT NC Securities I Made Adi Saputra kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Made menambahkan kondisi tersebut semakin lengkap dengan minimnya sentiment positif di dalam negeri pada pekan ini. Sebab, lanjut dia, baru awal minggu depan yang akan menyampaikan data inflasi sekaligus membuka perdagangan pada tahun 2012. Meskipun demikian, sentimen dari luar negeri berupa data ekonomi amerika yang pada pakan kemarin sudah menunjukkan bahwa ekonomi di negara tersebut menunjukkan perbaikan dan diharapkan pada pekan ini masih akan memberikan sentimen positif. 

“Kemungkinan dampak dari data ekonomi yg direlease pd hari jumat kemarin akan berdampak pada perdagangan di hari selasa dengan potensi kenaikan harga. Saya perkirakan selama sepekan mendatang harga obligasi akan bergerak terbatas dengan potensi penguatan harga pada obligasi bertenor panjang,” ungkap Made. 

Lebih lanjut Made mengatakan yield dari obligasi negara bertenor 5 tahun akan berada pada kisaran 5-5,2%. Obligasi negara bertenor 10 tahun akan berada pada kisaran 6,1-6,2%. Sedangkan yield obligasi negara bertenor 20 tahun akan berada pada kisaran 7,0 - 7,15%. Dengan terbatasnya pergerakan obligasi negara dan adanya potensi kenaikan harga pada obligasi negara bertenor panjang. 

“Investor pun disarankan untuk melakukan trading jangka pendek terhadap isntrumen obligasi negara bertenor panjang,” ujar Made. 

Sideways

Sementara itu, Juniman memprediksi sepi dan tipisnya perdagangan pekan ini membuat harga sun bergerak sideways. Alhasil, lanjut dia, yield tidak akan mnegalami perubahan yang banyak dan hanya bergerak di kisaran 5-10 bps. Dengan kondisi tersebut, membuat investor masih melakukan wait and see hingga pergantian tahun. “Baru di pekan kedua 2012 investor akan mengambil posisi. Seiring dengan adanya pengumuman data inflasi domestic dan data-datang lainnya di regional,” jelas dia. 

Juniman memperkirakan inflasi yang terjadi di Desember mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Ia memperkirakan 0,97% dan akan berada di kisaran 4,2%. Hal tersebut, lanjut dia, ditopang oleh naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok menjelang Natal dan tahun baru. Ia bahkan memperkirtakan kenaikan inflasi yangn terjadidi Desember lebih tinggi dibandingkan yang terjadi pada Agustus 2011 atau disaat menjelang hari Raya Lebaran. 

Dengan melihat pertumbuhan inflasi di Desember, Juniman memperkirkana tahun depan inflasi akan bergerak di kisaran 5-6%. Hal tersebut sieirng dengan kenaiakn harga bahan pokok dan ditambang lagi dengan adanya rencana menauikan BBM dan juga tariff listrik. Hal tersebut, lanjut dia, membuat  asing masih berhati-hati untuk masuk dalam obligasi Indonessia. Menueutnya, asing tidak terlalu berminat dengan obligasi Indonesia saat ini karena posisi yield yang ada saat ini. 

“Hal ini tercermin dengan tidak berubahanya jumlah kepemilihan asing di obligasi yang hanya sekitar Rp 230 triliun,” papar Juniman. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar