Kamis, 29 Desember 2011

Indeks Berpotensi 4.275-4.450

JAKARTA – PT Samuel Sekuritas Indonesia memprediksi indeks berpotensi bergerak di level 4.275-4.450 pada 2012. Hal tersebut seiring dengan pergerakan indeks sejak 2008 yang menunjukan tren bulish dan diperkirakan masih berlanjut pada tahun depan. 

Vice President and Senior Technical Analyst Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih Indonesia menjelaskan trend bulis ini ditopang dengan optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan tumbuh 6,7% pada tahun depan. Hal ini seiring dengan kekuatan konsumsi domestic dan tingkat bunga yang relative rendah. Ditambah lagi, lanjut dia, pada tahun depan kinerja emiten masih akan baik. 

“Dengan pendekatan bottom-up, kami mendapatkan target indeks di level 4.275 – 4.450 pada tahun depan. Target indek tersebut mentraslasikan rasio price to earning (PER) 14,8x dan pertumbuhan EPS 16,7%,” ungkap Alfatih di Jakarta, Kamis (29/12). 

Dari sisi valuasi, Alfatih menilai Indonesia masih layak di perdagangkan premium dibandingkan dengan bursa lain di Kawasan Asia. Hal tersebut, lanjut dia, terjustifikasi oleh rasio return on equity (ROE) tertinggi di Asia. Serta ratio Price/earning to growth (PEG) yang relative rendah hanya 0,6x. Menurutnya, angka tersebut merupakan ketiga terendah di Asia. 

Terlebih lagi, lanjut Alfatih, dengan ditetapkannya rating Indonesia sebagai investment grade oleh Fitch Ratings. Hal tersebut akan berdampak positif pada persepsi resiko investor asing terhadap pasar modal Indonesia. Mengingat, Indonesia akan menjadi pilihan investor asal Eropa dan Amerika Serikat (AS) ditengah ancaman potensi resesi ekonomi dari kawasan Eropa. “Hal tersebut akan semakin deras apabila lembaga pemeringkat dunia lainnya akan memberikan peringkat yang sama kepada Indonesia,” papar Alfatih.  

Alfatih menjelaskan, sektor-sektor saham yang berpotensi pada tahun depan adalah sektor consumer goods, properti, perbankan, dan infrastruktur. Sektor tersebut, lanjut dia, sangat bersentuhan langsung dengan konsumsi domestic.Soalnya, konsumsi domestic akan semakin meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan per kapita sertta jumlah penduduk. Sedangkan untuk infrastruktur, ia menjelaskan hal tersebut akan ditopang oleh kontribusi pemerintah yang menaikan anggaran infrastruktur sebesar 36% atau mencapai Rp 168,1 triliun pada tahun depan. 

Sementara untuk saham sector tambang, Alfatih memperkirakan akan mulai berkurang pergerakannya dibandingkan tahun ini seiring adanya resiko penurunan harga komoditas dunia. Hal tersebut sebagai akibat dari penurunan demand dari Eropa mengingat ekonomi di kawasan tersebut akan mengalami perlambatan. Ditambah lagi, tambahnya, dengan potensi penguatan nilai tukar dollar terhadap ruipiah seiring dengan ekspektasi perbaikan ekonomi di AS. 

“Untuk itu, kami merekomendasikan saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang kami anggap masih memiliki potensi bagus. Selain itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Indofood Tbk (INDF), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS),” tutur Alfatih.(iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar