JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) optimistis akan memangkas utang sebesar Rp 5,5-6 triliun selama semester II 2011. Pemangkasan utang tersebut berasal dari pembayaran utang Credit Suisse (CS) dan Medium Structure Note (MSN).
Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan dengan pembayaran tersebut, utang perseroan hanya akan tersisa sebanyak Rp 3,5-4 triliun pada akhir tahun mendatang. Mengingat, lanjut dia, terhitung akhir Juni 2011 posisi utang perseroan sebanyak Rp 10,2 triliun. Ia memaparkan dana pelunasan utang CS akan berasal dari transaksi penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk (BORN). Dana tersebut diperkirakan diatas US$ 400 juta.
Sedangkan untuk utang MSN, Eddy menjelaskan kami akan lunasi setengah dari sisa utang kami kepada mereka yaitu Rp 2,1 triliun. Dana tersebut akan berasal dari melalui debt asset settlement dari portofolio perusahaan terbuka yang dimiliki perseroan. Namun, ia enggan untuk menjelaskan besaran jumlah saham yang dilepas tersebut. Ia hanya mengatakan penjualan tersebut dilakukan melalui PPC yang akan bernegosiasi dengan kreditur.
“Pelunasan setengah dari total utang MSN terjadi karena kelihatannya tidak bisa settle semuanya,” ungkap Eddy kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (29/11).
Sebelumnya, Eddy pernah mengatakan dengan penjualan saham tersebut, kepemilikan perseroan di portofolio perusahaan tersebut tersebut menjadi berkurang. Ia menyebutkan PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (28,92%), PT Bakrie Land Development Tbk (8,14%), PT Bakrie Bakrie Telecom Tbk (45%), PT Energy Mega Tbk (8,75%).
Sedangkan untuk sisa utang kepada CS, Eddy menjelaskan perseroan akan melakukan refinancing sebesar US$ 220 juta. Mengingat total utang perseroan kepada CS berjumlah US$ 601.75 juta dari total utang Bakrie Grup sebesar US$ 1,35 miliar. Ia menjelaskan tengah bernegosiasi dengan kreditur untuk refinancing. Ia pun menargetkan minggu pertama Desember sudah mendapatkan komitmen dari para kreditur dalam refinancing.
“Mudah-mudahan sebelum akhir tahun bisa selesai refinancing sisa utang tersebut,” papar Eddy.
Sebelumnya, Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gaffur Umar mengatakan aspek pengurangan utang dari transaksi tersebut merupakan instrumental. Sebab, lanjut dia, akan membuat neraca perseroan lebih sehat dan kuat. “Disamping itu, kami juga mewujudkan komitmen untuk memenuhi kewajiban kepada kreditur kami,” papar Bobby.
Laba Positif
Eddy pernah mengatakan penurunan utang tersebut akan menciptakan penurunan biaya beban perseroan. Serta, lanjut dia, menciptakan laba bersih positif di akhir tahun. Namun, ia enggan untuk menyebutkan target laba bersih tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan pada semester I 2011, BNBR berhasil membukukan laba bersih sebanyak Rp 45,49 miliar. Untuk itu, ia optimistis rencana kuasi reorganisasi yang dilakukan perseroan akan berjalan sesuai yang direncanakan. Menurutnya, saat ini perseroan masih tahap masa sanggahan kreditur.
“Diharapkan minggu pertama Desember kami akan bisa melaporkan ke Bapepam dan memberikan persetujuan sebelum akhir tahun,” ujar Eddy. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar