JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan menjual tiga anak usaha non inti dan inti perseroan senilai Rp 2,6-3,1 triliun pada 2012. Penjualan tersebut akan dilakukan dengan dua mekanisme, yaitu penjualan kepada investor strategis dan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Ketiganya adalah PT Bakrie Pipe Industries, PT Bakrie Tosan Jaya, dan PT Bakrie Building Industries.
Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan untuk penjualan Bakrie Pipe dilakukan kepada investor strategis. Diperkirakan, lanjut dia, penjualan tersebut diperkirakan mencapai US$ 75 juta atau setara Rp 675 miliar. Saat ini, lanjut dia, penjualan tersebut masih tahap negosiasi dengan beberapa investor dari Korea Selatan, India, Amerika latin, dan Eropa. Ia memperkirakan kemungkinana akan menjual mayoritas saham di Bakrie Pipe.
“Jika merujuk penjualan saham non inti sebelumnya, PT Seamless Pipe Indonesia Jaya (SPIJ), sebesar 90% saham, mungkin sja penjualan dengan jumlah tersebut akan terjadi kembali di Bakrie Pipe,” ungkap Eddy di sela paparan public di Jakarta, Jumat (16/12).
Sedangkan untuk Bakrie Tosan Jaya dan Bakrie Building, Eddy memaparkan akan dilakukan melalui IPO. Hal tersebut dilakukan karena keduanya merupakan asset inti perseroan yang memiliki kinerja paling baik. Bahkan, lanjut dia, Bakrie Tosan Jaya memiliki prospek pertumbuhan yang sangat positif di masa depan. Sebab, perusahaan tersebut memproduksi barang-barang kendaraan otomotif khusus niaga dan memiliki net margin hingga diatas 15%.
“Hal serupa juga terjadi dengan Bakrie Building. Untuk itu, idealnya masing-masing bisa meraup dana masyarakat senilai Rp 1-1,5 triliun,” tambah Eddy.
Namun, lanjut Eddy, kedua perusahaan tersebut diwajibkan untuk meningkatkan market cap sebelum IPO. Sebab, saat ini market cap kedua perusahaan tersebut masih sangat kecil dibandingkan dengan anak usaha Bakrie & Brothers yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia. Ia mencontohkan Bakrie Tosan yang diperkirakan market cap sebesar Rp 1,6-1,8 triliun. Menurut Eddy, keduanya akan meningkatkan market cap dengan cara akuisisi perusahaan sejenis.
“Saya optimistis keduanya akan mampu melakukan peningkatan market cap. Mengingat keduanya memiliki kas dan akses ke perbankan yang kuat. Jadi tidak masalah dengan pendanaan mereka,” papar Eddy.
Utang Rp 3 T
Pada kesempatan yang sama, Eddy menjelaskan dana hasil penjualan asset tersebut akan digunakan untuk mengurangi utang. Ia memperkirakan dengan penjualan tersebut perseroan dapat menekan utang menjadi Rp 3 triliun pada akhir 2012. Sedangkan pada akhir 2011, diperkirakan posisi utang perseroan sebesar Rp 4 triliun. Menurutnya, dengan sisa utang tersebut akan membuat posisi utang perseroan ideal.
Selain pelunasan utang, lanjut Eddy, perseroan juga akan melakukan penerbitan obligasi sebesar Rp 1 triliun pada kuartal I 2011. Dana tersebut, lanjut dia, akan digunakan untuk membayar repurchase agreement (repo) Rp 320 miliar. Ditambah, pinjaman jangka pendek yang akan jatuh tempo sebesar US$ 60 juta. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan melakukan refinancing utang dengan kreditur lama mereka, yaitu Credit Suisse (CS). Ia menyebutkan jumlah refinancing tersebut sebesar US$ 220 juta yang akan jatuh tempo pada Maret 2013.
“Jumlah tersebut merupakan sisa utang kami kepada CS ,” pungkas Eddy. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar