Selasa, 27 Desember 2011

Indofarma Bidik Order Jepang Rp 100 M

JAKARTA – PT Indofarma Tbk (INAF) membidik pemesanan (order) penjualan obat deteksi dini dan terapi penyakit kanker, radiofarmaka, dari Jepang. Nilai dari order tersebut diperkirakan akan mencapai lebih dari Rp 50-100 miliar. Obat tersebut merupakan hasil kerjasama antara perseroan dengan Batan Technology (Batan Tech). 

“Potensi penjualan obat tersebut sangat besar, bahkan kebutuhan domestik saja diperkirakan akan mencapai Rp 50 miliar. Selain itu, kami juga akan mendapatkan order pembelian dari Jepang pada tahun depan, potensi nilai order tersebut diperkirakan akan lebih dari Rp 50 miliar,” ungkap Sekretaris Perusahaan Indofarma Ahdia Amini di Jakarta, Selasa (27/12). 

Namun, Ahdia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai kontrak tersebut. Ia hanya mengatakan pembeli tersebut merupakan sebuah rumah sakit dari Jepang dan akan melakukan MoU pada awal tahun mendatang. Ia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%.

“Langkah ini menjadi salah satu quantum leap perseroan dalam rangka net profit oriented. Alhasil, mampu menciptakan laba bersih yang besar di tahun mendatang dan juga memberikan dividen kepada pemegang saham,” jelas Ahdia. 

Ahdia menambahkan skema bisnis yang dijalankan dengan Batan Tech adalah win-win solution. Sebab, lanjut dia, dalam penjualan produk tersebut perseroan bertindak sebagai distributor atau marketing. Sedangkan Batan Tech sebagai pihak manufacturing. Dalam menjalankan bisnis tersebut, Ahdia mengatakan perseroan telah mendapat komitmen fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp 100 miliar. 

Lebih lanjut Ahdia mengatakan pinjamna tersebut akan digunakan untuk membiayai pembuatan radiofarmaka oleh Batan Tech. Rencananya, lanjut dia, pada tahun depan pinjaman tersebut akan dicairkan separuhnya. “Hal tersebut untuk memenuhi permintaan di 2012. Selama ini, pendaanaan yang menjadi masalah penting bagi Batan Tech dalam memproduksi radiofarmaka tersebut,” jelas dia. 

Selain Radiofarmaka, Ahdia menjelaskan perseroan juga akan mengembangkan obat yang memiliki margin besar dan memiliki pesaing yang minim. Untuk itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengeluncurkan 16 jenis obat baru pada 2012. “Empat dari 16 obat baru tersebut merupakan obat tanpa resep (otc),” tandas dia. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar