Senin, 12 Desember 2011

Pooling saham Erajaya Oversuscribed 2,2 Kali

JAKARTA - PT Erajaya Swasembada Tbk mencatat kelebihan permintaan (oversuscribed) selama penawaran umum (pooling) sebanyak 2,2 kali. Dengan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) yang ditetapkan perseroan sebesar Rp 1.000 per saham. Penawaran umum tersebut dilakukan pada 6-9 Desember 2011. 

Direktur Marketing and Communication Erajaya Swasembada Djatmiko Wardoyo mengatakan oversubsribed dalam penawaran tersebut menunjukkan kepercayaan pasar terhadap industri distribusi produk-produk selular di Indonesia. Berdasarkan kajian Frost and Sullivan, tambah dia, pertumbuhan industri produk selular di Indonesia akan tetap tinggi karena ditunjang oleh kecenderungan konsumen di Indonesia untuk berganti ponsel setiap kurun waktu 7-14 bulan. 

Selain itu, Lanjut Djatmiko, konsumen Indonesia saat ini sedang mengalami peralihan ke smartphone yang ditunjang oleh pertumbuhan social media berbasis selular mobile. Pengguna facebook di Indonesia sebanyak 40 juta pengguna merupakan yang kedua terbesar di dunia. "Kami sebagai perusahaan yang memegang lisensi distribusi 10 brand global dan pemilik brand lokal Venera sangat diuntungkan dengan trend penggantian handset dan pertumbuhan pasar smartphone di Indonesia," ungkap Djatmiko 
kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (12/12).

Melihat minat selama masa penawarn umum tersebut, Djatmiko menjelaskan perseroan akhirnya mengalokasikan investor ritel sebesar 12,10% dan peminat institusi sebesar 87.90%. Padahal, lanjut dia, sebelumnya Perseroan mengalokasikan penjatahan (pooling) untuk penawaran umum sebesar 2% dari total jumlah saham yang akan dilepas ke publik.

"Sedangkan untuk porsi asing 55.44% dan domestik 44.56%. Jumlah tersebut setelah melakukan roadshow ke berbagai investor di Asia, Eropa dan Amerika dengan dibantu oleh PT Buana Capital, PT Credit Suisse Indonesia dan PT JP Morgan Securities Indonesia," jelas Djatmiko. 

Lebih lanjut Djatmiko menjelaskan perseroan akan mulai mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode perdagangan "ERAA" pada tanggal 14 Desember 2011. Dana IPO tersebut akan digunakan 42% dana raihan IPO tersebut akan digunakan untuk membayar akusisi TAM, 16% pengembangan jaringan distribusi dan ritel Erafone, dan 42% untuk modal kerja. 

Sebelumnya, Direktur Utama Erajaya Swasembada Budiarto Halim  mengatakan penetapan harga Rp 1.000 mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 1,5 kali selama penawaran awal (bookbuilding). mengatakan harga tersebut merupakan harga terendah yang ditawarkan selama penawaran umum dan roadshow. 

Meski ditentukan di harga terendah, lanjut Budiarto, bukan berarti sepi peminat. Sebab, di harga tersebut lebih banyak diminati oleh investor berkualitas yang merupakan institusi besar. "Hal tersebut berdasarkan besarnya potensi penetrasi ponsel di Indonesia seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah," jelas dia.

Dengan penetapan harga tersebut, lanjut Budiarto, perseroan mengubah porsi IPO dari 40% menjadi hanya 31% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh senilai Rp 920 miliar. Disamping itu, lanjut dia, kondisi pasar saat ini juga masih belum memungkinkan untuk perseroan melepas saham sebanyak 40%. Mengingat, saat ini investor masih bersikap wait and see terhadap krisisi Eropa. 

Budiarto menambahkan hal tersebut juga dilakukan dengan pertimbangan dana hasil IPO tersebut dianggap telah memenuhi kebutuhan perseroan. “Mengingat kami pun telah memiliki komitmen fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 800 miliar,"tandas Budiarto. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar